MALUKU — Pergerakan rupiah hari ini berlangsung fluktuatif. Berdasarkan data Investing.com, pasangan USD/IDR terkoreksi 14,2 poin dari penutupan sebelumnya, dengan rentang perdagangan intraday bergerak antara Rp17.672,3 hingga Rp17.736,4. Pembukaan pasar tercatat di level Rp17.672,9.
Dalam evaluasi 52 minggu, posisi rupiah saat ini masih jauh di bawah titik terendahnya di Rp16.294,0, namun juga belum pulih dari rekor pelemahan yang sempat menyentuh Rp18.197,5. Secara teknikal, grafik historis menunjukkan fase koreksi setelah tren penguatan dolar yang konsisten sejak awal tahun hingga puncaknya di kisaran Juni-Juli.
Data Ekonomi AS Kembali Menopang Dolar
Dolar AS mendapat tenaga baru dari rilis indeks PMI Jasa yang tercatat di angka 56,8, jauh melampaui konsensus pasar di level 54 dan menjadi yang tertinggi sejak Desember 2024. Angka ini mengindikasikan aktivitas ekonomi AS masih ekspansif, membuka ruang bagi The Federal Reserve untuk menahan suku bunga acuan lebih lama.
Kondisi ini menekan mayoritas mata uang Asia, meski won Korea Selatan dan dolar Hong Kong berhasil mencatatkan penguatan di tengah pelemahan regional.
Defisit Transaksi Berjalan Melebar, Impor Minyak Jadi Biang Kerok
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah datang dari neraca eksternal. Defisit transaksi berjalan (current account deficit) Indonesia melebar menjadi sekitar US$12,5 miliar atau setara 3,3% dari PDB pada kuartal II 2026. Pelebaran ini utamanya dipicu tingginya nilai impor minyak di tengah harga minyak mentah dunia yang masih berada di level elevated, sehingga menambah tekanan pada neraca pembayaran dan persepsi pasar terhadap prospek jangka pendek rupiah.
Ketegangan Iran dan Suku Bunga The Fed Jadi Pengganjal
Ancaman sanksi Amerika Serikat terhadap Iran turut mewarnai sentimen pasar. Kekhawatiran akan potensi inflasi energi akibat eskalasi di Timur Tengah mendorong pelaku pasar memproyeksikan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi, faktor yang membebani mata uang berisiko seperti rupiah.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa kekhawatiran atas potensi inflasi energi akibat ketegangan Iran dapat mendorong The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi, sehingga menjadi salah satu faktor yang membebani mata uang berisiko seperti rupiah dalam waktu dekat.
Proyeksi Pergerakan dan Langkah Bank Indonesia
Para analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam beberapa hari ke depan. Investor disarankan mencermati perkembangan data ekonomi AS dan situasi geopolitik global yang berpotensi memicu volatilitas nilai tukar.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar menjadi faktor penyeimbang utama bagi perekonomian domestik.
Investasi mengandung risiko.