Usaha tenun asal Ambon, Tenun Ikat Mawar, memperluas pasar kain khas Maluku hingga ke Belanda dengan mengedepankan pewarna alam. Satu lembar kain dengan ukuran terbesar dibanderol Rp 3,5 juta, sementara proses pengerjaannya butuh waktu hingga tiga minggu. Usaha ini juga mendapat pembinaan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku selama lima tahun terakhir.
JAKARTA — Tenun Ikat Mawar, usaha kain tenun khas Maluku yang berbasis di Ambon, kini merambah pasar ekspor hingga Belanda. Perajinnya, Lucy, mengatakan permintaan dari luar negeri tersebut datang secara berkala setiap beberapa bulan, menyesuaikan kebutuhan pasar setempat.
Di sela pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta, Sabtu, Lucy menyebut harga jual kain produksinya bervariasi tergantung ukuran dan kerumitan motif. Untuk kain dengan ukuran dua kali satu meter, dibanderol Rp 3,5 juta.
Pewarna Alam Perpanjang Waktu Produksi
Keunggulan utama Tenun Ikat Mawar adalah penggunaan pewarna alam yang ramah lingkungan. Namun, proses ini memakan waktu lebih lama dibandingkan pewarna sintetis.
"Untuk pewarnaan alam ini, kami membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga minggu untuk satu lembar kain karena proses pewarnaannya memang lama," kata Lucy.
Dalam satu bulan, usaha yang seluruh proses produksinya dilakukan di Ambon ini mampu menghasilkan 20 hingga 30 lembar kain. Bahan baku utama juga diperoleh dari Ambon.
BI Maluku Dorong Kapasitas dan Permodalan
Lucy mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah giat membudidayakan tanaman penghasil pewarna alam, salah satunya indigo atau nila. Langkah ini diambil untuk menekan biaya produksi yang selama ini lebih tinggi dibanding pewarna sintetis.
Perjalanan Tenun Ikat Mawar tidak lepas dari dukungan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku. Selama kurang lebih lima tahun, BI Maluku memberikan pembinaan mencakup peningkatan kapasitas, akses pasar, informasi, hingga dukungan permodalan.
"Terima kasih banyak kepada BI Maluku karena sudah membina kami selama kurang lebih lima tahun. Kami sudah diberikan banyak pelajaran, kemudian dibantu dalam akses pasar, informasi, dan juga permodalan," ungkap Lucy.
Menumbuhkan Kebanggaan pada Warisan Budaya
Melalui pameran seperti KKI, Lucy berharap produk tenun daerah semakin dikenal luas oleh masyarakat Maluku sendiri. Ia ingin menumbuhkan rasa bangga terhadap tenun sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan.
"Biarlah ini menjadi bagian untuk mengenalkan warisan budaya ini. Karena kalau bukan orang Maluku yang mengenalkan, siapa lagi?" tandas Lucy.