MALUKU — Narasi yang menyebut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan banyak rakyat meminta pemerintah menaikkan harga BBM adalah keliru. Klaim yang beredar di media sosial itu masuk kategori hoaks dan telah ditelusuri faktanya oleh ANTARA.
Foto dan Narasi yang Dimanipulasi
Unggahan di Facebook itu menampilkan foto Bahlil dengan narasi: "Harga BBM Pertamina Naik? Bahlil: 'Banyak Rakyat yg Minta Pemerintah Harus Naikkan Harga BBM'".
Penelusuran menunjukkan foto tersebut berasal dari artikel berjudul "Menteri Bahlil Ungkap Alasan Presiden Prabowo Bentuk Satgas Hilirisasi". Konteks foto adalah penjelasan Bahlil soal pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi oleh Presiden Prabowo Subianto.
Satgas itu bertujuan mengoordinasikan dan mempercepat program hilirisasi di berbagai sektor. Tidak ada kaitan antara foto tersebut dengan pernyataan soal kenaikan harga BBM.
Pemerintah Justru Pertahankan Harga BBM Bersubsidi
Alih-alih menaikkan harga, pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi maupun LPG bersubsidi. Keputusan ini diambil meskipun harga minyak dunia berfluktuasi akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Bahlil menegaskan stok energi nasional, termasuk BBM dan LPG, masih aman dan memenuhi standar minimum nasional. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi saat ini.
Penyesuaian Harga Hanya untuk BBM Nonsubsidi
Pada kesempatan terpisah, Bahlil menyampaikan bahwa Presiden Prabowo menginstruksikan penyesuaian harga BBM nonsubsidi seiring penurunan harga minyak dunia. Pernyataan ini disampaikan setelah menghadiri rapat terbatas bersama Presiden di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 4 Agustus.
Instruksi tersebut justru mengarah pada potensi penurunan harga BBM nonsubsidi, bukan kenaikan. Hal ini berbanding terbalik dengan narasi hoaks yang beredar.
Kesimpulan Verifikasi
Berdasarkan penelusuran ANTARA, klaim bahwa Bahlil mengatakan banyak masyarakat meminta pemerintah menaikkan harga BBM adalah tidak benar. Foto Bahlil dalam unggahan tersebut diambil dari konteks pemberitaan yang berbeda dan tidak berkaitan dengan klaim yang disebarkan.
Masyarakat diimbau lebih kritis dalam menyikapi informasi di media sosial. Selalu verifikasi kebenarannya melalui kanal resmi atau situs cek fakta. Jangan mudah percaya pada narasi yang menggunakan foto tokoh publik di luar konteksnya untuk menyebarkan informasi menyesatkan.