Pencarian

GSMA: Adopsi 5G Indonesia Baru 4%, Fokus ke Monetisasi Sebelum Kejar 6G

Kamis, 20 Agustus 2026 • 14:09:57 WIB
GSMA: Adopsi 5G Indonesia Baru 4%, Fokus ke Monetisasi Sebelum Kejar 6G
GSMA mencatat tingkat adopsi 5G Indonesia baru mencapai 4 persen dari total koneksi pada 2025.

MALUKU — Asosiasi industri telekomunikasi global GSMA menegaskan Indonesia tidak perlu terburu-buru mengadopsi 6G. Alasannya jelas: tingkat adopsi 5G di Indonesia baru menyentuh 4% dari total koneksi pada tahun ini, dengan proyeksi naik ke level 27% pada 2030.

Data GSMA menunjukkan cakupan jaringan 5G di Indonesia baru mencapai 10% dari populasi pada 2025. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi 32% pada 2030.

Standar Komersial 6G Baru Rampung 2028

Kepala Asia Pasifik GSMA Julian Gorman mengatakan standar komersial 6G baru akan tersedia sekitar tahun 2028. Jaringan komersial pertama 6G baru hadir pada 2030, itupun hanya di negara-negara dengan adopsi teknologi paling maju.

"Standar 6G berjalan sesuai rencana dan diperkirakan akan menghasilkan standar komersial pertama, saya rasa, sekitar 2028," kata Julian dalam Virtual Roundtable yang dihadiri dari Jakarta, Kamis (20/8).

Menurut Julian, jaringan 5G akan tetap menjadi teknologi dominan di kawasan Asia Pasifik hingga akhir dekade ini. GSMA telah membentuk komunitas bernama Tokyo Accord pada April 2026 yang mempertemukan operator dan aliansi 6G dari Jepang, Korea Selatan, dan India.

Era 4G Jadi Bukti: Inovasi Lebih Penting dari Kecepatan

Julian mengingatkan bahwa manfaat transformasional teknologi tidak ditentukan oleh kecepatan semata, melainkan kemampuan mengubah teknologi menjadi dampak ekonomi nyata. Ia mencontohkan era 4G yang melahirkan platform digital seperti Tokopedia dan Gojek.

"Kita perlu memastikan inovasi tersebut bergerak sebelum mulai mengkhawatirkan fitur-fitur 6G. Jika tidak, kita hanya membuat semuanya semakin cepat," ujarnya.

Ia menilai Indonesia sebenarnya tidak tertinggal dalam pengembangan teknologi. Operator seperti IOH telah mengumumkan kemitraan dengan NVIDIA dan Nokia terkait AI-RAN. Fokus saat ini adalah mengubah 5G menjadi teknologi yang diadopsi luas dan memberikan dampak ekonomi terukur, misalnya di sektor pabrik, pelabuhan, dan bandara.

Hambatan Adopsi: Spektrum, Harga Perangkat, dan Monetisasi Enterprise

Kepala Urusan Publik dan Eksternal APAC GSMA Jeanette Whyte menyoroti masalah spektrum sebagai salah satu faktor penghambat. Indonesia memang memulai 5G lebih awal menggunakan spektrum yang tersedia, namun ketersediaannya dinilai tidak cukup.

Jeanette menilai pelaksanaan lelang spektrum menjadi awal yang baik, tetapi adopsi tidak hanya ditentukan oleh jaringan. "Harga perangkat, kebutuhan pengguna, manfaat yang diperoleh, serta kemampuan memperoleh layanan yang lebih baik juga menjadi faktor penting," jelasnya.

Ia menambahkan peluang monetisasi 5G dari segmen enterprise masih berkembang lebih lambat. Karena itu, tingkat adopsi tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan teknologi tersebut.

Julian Gorman juga menyoroti harga handset kelas atas yang meningkat akibat kenaikan biaya cip dan memori global. Kondisi ini berdampak pada keterjangkauan perangkat 5G yang masih berada di kelompok harga tinggi.

AI Jadi Mesin Monetisasi 5G

GSMA melihat kecerdasan buatan (AI) sebagai peluang meningkatkan nilai ekonomi jaringan 5G. Dalam paparannya, AI disebut sebagai monetisation engine yang dapat mengubah operator dari sekadar penyedia konektivitas menjadi platform AI.

Julian menekankan Indonesia perlu menghasilkan use case 5G spesifik sesuai kebutuhan dalam negeri, serupa dengan cara Indonesia melahirkan solusi dan platform sendiri pada era 4G. Dengan demikian, 5G tidak berhenti sebagai infrastruktur, tetapi berkembang menjadi pendorong inovasi dan aktivitas ekonomi.

Follow kabartual.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks