MALUKU — Indonesia memiliki catatan sejarah panjang dalam pengelolaan energi panas bumi yang jarang diketahui publik. Tepat seratus tahun lalu, tepatnya 1926, pengeboran sumur panas bumi pertama kali dilakukan di Kamojang, Jawa Barat. Yang menarik, sumur bersejarah itu tidak menjadi artefak mati—uapnya masih mengalir dan dimanfaatkan hingga hari ini.
"Hari ini memang tepat peringatan 100 tahun di mana tajak sumur pengeboran panas bumi dulu tahun 1926 mulai dicanangkan, mulai dibor di Kamojang, dan saat ini pun, berusia 100 tahun pun, uapnya masih mengalir," kata Eniya Listiani Dewi dalam Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di JICC Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Potensi Raksasa yang Baru Digarap 11,8 Persen
Di balik usia panjang itu, pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia masih jauh dari optimal. Data Kementerian ESDM menunjukkan potensi panas bumi nasional mencapai 23,2 gigawatt (GW), namun kapasitas terpasang yang baru dibangun hanya sekitar 11,8 persen dari total potensi tersebut.
Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE, Priatin Hadi Wijaya, mengungkapkan bahwa dengan tambahan kapasitas 4,1 GW hingga 4,4 GW, Indonesia berpeluang menyalip Amerika Serikat sebagai produsen listrik panas bumi terbesar dunia pada 2030. "Jadi tantangan kita untuk menuju 2030 mudah-mudahan dengan 4,1 GW sampai 4,4 GW akan menyalip AS sebagai penghasil energi nomor 1 di dunia," ujarnya dalam acara Groundbreaking PLTP Dieng Unit 2 di Wonosobo, Jawa Tengah.
Bukan Sekadar Cadangan, tapi Senjata Melawan Fosil
Eniya menegaskan bahwa panas bumi bukan sekadar energi alternatif pelengkap. Dalam sektor kelistrikan, sumber energi ini mampu bersaing langsung dengan pembangkit batu bara maupun diesel. Keunggulan utamanya terletak pada sifatnya yang baseload—mampu beroperasi terus-menerus tanpa bergantung pada cuaca.
"Jadi, rasanya memang panas bumi yang kita kenal ini nantinya sangat bisa bersaing dengan diesel, sangat bisa bersaing dengan bahan bakar dari fosil, batu bara ataupun diesel, karena 24 jam bisa menghadirkan listrik," jelas Eniya.
Ia juga mengingatkan konsekuensi jika potensi ini tidak digarap serius. "Ini merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, kalau uap-uap itu tidak dimanfaatkan, kita tentu saja menjadi kaum yang merugi," imbuhnya.
Target Bauran EBT Naik Signifikan di 2034
Optimisme pengembangan panas bumi tertuang dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034. Dengan target tambahan kapasitas 5,2 GW dari panas bumi, porsi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional diharapkan meningkat dari 17 persen saat ini menjadi lebih tinggi secara signifikan.
Saat ini, porsi panas bumi baru mencapai 2,2 persen dari total bauran EBT. Angka tersebut masih kalah dari FAME untuk biodiesel yang mencapai 5,2 persen dan tenaga air (PLTA) sebesar 3,5 persen. Dengan tambahan kapasitas baru, kontribusi panas bumi ditargetkan naik menjadi 4,5 persen pada akhir periode RUPTL.
Selain untuk kelistrikan, Kementerian ESDM juga mendorong pengembangan direct use geothermal—pemanfaatan panas bumi secara langsung untuk kebutuhan industri, pertanian, atau pariwisata. Langkah ini dinilai mampu memperkuat badan usaha seperti PT Geo Dipa Energi dalam memberikan kontribusi lebih luas bagi negara dan masyarakat.