JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Rabu pagi. Berdasarkan data pasar, rupiah melemah 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp18.099 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.083 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari dua sisi sekaligus. Dari eksternal, laporan serangan Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah yang membebani mata uang negara importir minyak seperti Indonesia.
Konflik Timur Tengah dan Suku Bunga The Fed Jadi Beban Ganda
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS, dengan harga minyak mentah yang kembali melonjak menyusul berita penyerangan oleh Iran terhadap pasukan AS di Timteng,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Mengutip laporan Anadolu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pada Selasa (28/7) bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan rudal balistik ke arah pasukan AS yang ditempatkan di Timur Tengah. Ketegangan ini semakin memanas setelah serangan balasan AS terhadap Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mengantisipasi hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuan. Namun, Lukman mengingatkan bahwa nada hawkish dari Ketua The Fed tetap menjadi risiko.
“Pasar mengantisipasi nada hawkish Kepala The Fed. Ini tentunya akan juga membebani rupiah,” katanya. Sikap hawkish tersebut dikhawatirkan akan memperkuat dolar AS, terutama jika The Fed menyoroti kenaikan harga minyak yang berpotensi memicu inflasi.
Pengunduran Diri Perry Warjiyo Semakin Perberat Rupiah
Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia. Langkah ini menambah ketidakpastian di pasar keuangan domestik di tengah tekanan eksternal yang sudah berat.
“Melihat sentimen domestik, diperkirakan masih negatif seiring pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia,” tambah Lukman.
Dengan kombinasi tekanan eksternal dan domestik tersebut, analis memproyeksikan pergerakan rupiah dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS dalam waktu dekat. Pasar masih menunggu kejelasan arah kebijakan moneter global dan stabilitas politik di dalam negeri.