WETAR — Sebelum berangkat ke lokasi kompetisi, kesepuluh personel ERT Wetar mengikuti pelepasan resmi di Jakarta. Boyke Poerbaya Abidin menyampaikan pesan soal kesiapan menghadapi situasi darurat, kedisiplinan menerapkan prosedur keselamatan, serta semangat belajar dan mengembangkan kemampuan.
Keikutsertaan di IFRC 2026 diposisikan sebagai ajang mengukur kompetensi, bertukar pengalaman, dan membangun kolaborasi dengan tim tanggap darurat dari berbagai perusahaan. Pesan itu menjadi bekal tim untuk menjunjung profesionalisme, sportivitas, kerja sama, dan prinsip keselamatan selama rangkaian lomba.
Rescue Goes to School, ERT Wetar Berbagi Materi Pertolongan Pertama
Rangkaian IFRC 2026 resmi dimulai 23 Oktober 2026 dan dijadwalkan berlangsung hingga 30 Oktober 2026. Selain lomba keterampilan penyelamatan dan penanganan keadaan darurat, kegiatan ini menghadirkan program edukasi keselamatan bagi masyarakat lewat Rescue Goes to School.
Di forum itu, ERT Wetar mendapat kesempatan menyampaikan materi first aid atau pertolongan pertama. Kegiatan dilaksanakan bersama rekan-rekan ERT dari BSI, SCM, dan MTI sebagai upaya memperkenalkan pengetahuan dasar keselamatan serta tindakan awal yang tepat saat menghadapi kondisi darurat.
Partisipasi di kegiatan edukasi menunjukkan kompetensi tanggap darurat tidak hanya dibutuhkan di lingkungan operasional pertambangan. Edukasi yang tepat diharapkan membuat warga memahami pentingnya mengenali kondisi darurat, meminta bantuan, dan memberikan pertolongan awal sesuai kemampuan serta prosedur yang aman.
Manajemen Wetar Copper Mine Dampingi Langsung Tim
Tim ERT Wetar didampingi Direktur Operasional Wetar Copper Mine Jimmy Bob Suroto bersama OHS Superintendent BKP-BTR Geriet Tamura Drinkhuizen Poluan. Kehadiran manajemen mencerminkan dukungan perusahaan terhadap pengembangan sumber daya manusia di bidang Occupational Health and Safety (OHS), kesiapsiagaan darurat, serta peningkatan kemampuan teknis personel ERT.
Jimmy Bob Suroto menegaskan bahwa keikutsertaan dalam IFRC 2026 bukan semata-mata untuk meraih prestasi. Menurutnya, ajang itu menjadi sarana pembelajaran untuk meningkatkan kesiapan tim menghadapi berbagai potensi keadaan darurat di area operasional.
"Pengalaman yang diperoleh selama kompetisi dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat standar kerja, meningkatkan koordinasi antarpersonel, serta mendorong penerapan praktik keselamatan yang semakin baik di lingkungan kerja," kata Jimmy.
Sementara Geriet Tamura Drinkhuizen Poluan menyoroti penguasaan keterampilan teknis, disiplin terhadap prosedur, komunikasi efektif, dan kerja sama tim dalam setiap operasi penyelamatan. Kompetensi ERT perlu dikembangkan berkelanjutan melalui pelatihan, simulasi, evaluasi, dan pertukaran pengalaman dengan tim perusahaan lain.
Uji Kemampuan dan Perluas Wawasan Personel
Bagi para personel, IFRC 2026 menjadi kesempatan menguji kemampuan, mempelajari metode penyelamatan yang beragam, serta memperluas wawasan soal praktik tanggap darurat. Salah satu peserta, Gilberto Mahoklory, menyebut keikutsertaannya sebagai pengalaman berharga untuk mengembangkan kemampuan pribadi sekaligus memperkuat kekompakan tim.
Gilberto merasakan manfaat saat berinteraksi dan berlatih bersama personel ERT dari berbagai perusahaan. Keterampilan teknis meningkat, begitu pula pemahaman soal komunikasi, ketenangan, ketepatan tindakan, dan kepercayaan antarpersonel saat menghadapi situasi darurat.
Pengalaman itu diharapkan dibagikan kembali kepada rekan-rekan di Site Wetar. Dengan begitu, manfaat kegiatan tidak berhenti pada peserta yang berangkat, tetapi menjalar ke seluruh tim tanggap darurat di area operasional.