MALUKU — Andre Caldas resmi mengambil alih kursi pelatih interim Arema FC setelah manajemen memutus kontrak Marcos Santos. Pelatih asal Brasil itu langsung menghadapi lima laga tanpa kemenangan dan jadwal BRI Super League 2026/2027 yang padat. Di tengah tekanan, Caldas memilih merawat warisan organisasi pendahulunya.
Penunjukan Andre Caldas sebagai pelatih interim Arema FC diumumkan di Malang, menggantikan Marcos Santos yang diputus kontrak di tengah musim. Caldas bukan sosok asing di klub berjuluk Singo Edan itu. Selama dua tahun terakhir ia mendampingi Marcos Santos, sehingga transisi kepelatihan tidak dimulai dari nol.
Namun situasi yang diwariskan jauh dari ideal. Arema FC mencatat lima pertandingan beruntun tanpa kemenangan, sementara kompetisi BRI Super League 2026/2027 terus berjalan dengan jadwal padat. Ekspektasi suporter Malang Raya menambah beban kerja staf pelatih baru.
Lima Laga Tanpa Kemenangan Jadi Ujian Pertama Caldas
Rentetan hasil buruk menjadi pekerjaan rumah paling mendesak. Caldas dituntut mengembalikan mentalitas bertanding dan agresivitas pemain di sisa kompetisi, tanpa kehilangan stabilitas internal tim.
Pelatih berusia 40-an itu menyebut prinsip kerja sama, komunikasi terbuka, dan penanaman rasa percaya diri kepada para pemain sebagai pegangan. Pendekatan itu dipilih karena ruang manuver di tengah musim relatif sempit.
Warisan Marcos Santos yang Tak Ingin Dihapus Caldas
Di tengah sorotan tajam terhadap hasil di lapangan, Caldas justru menyempatkan diri membahas kontribusi pendahulunya. Menurut dia, Marcos Santos tidak hanya meninggalkan urusan taktik di atas rumput hijau.
Yang dibangun Marcos Santos, kata Caldas, adalah fondasi organisasi jangka panjang. Fondasi itu dinilai krusial untuk mengembalikan Arema FC ke posisi klub besar, dan sebagian gagasan perubahan dalam waktu dekat disebut berasal dari pelatih yang baru saja diputus kontrak tersebut.
"Untuk membuat Arema kembali menjadi klub besar, masih banyak hal yang perlu kami benahi dan tingkatkan sebagai sebuah organisasi. Dalam waktu dekat, kalian akan melihat sejumlah perubahan di Arema, dan banyak gagasan tersebut berasal dari Coach Marcos," ungkap Andre Caldas.
Caldas menyayangkan cara publik sepak bola nasional menilai klub hanya dari hasil pertandingan. Kerja keras di balik layar yang diletakkan untuk masa depan klub, menurut dia, luput dari perhatian.
Dedikasi untuk Suporter dan Target Kebangkitan Singo Edan
Bagi Caldas, situasi sulit ini bukan sekadar beban. Ia memilih melihatnya sebagai peluang melakukan pembenahan fundamental, sesuatu yang lebih sulit dilakukan ketika tim sedang dalam tren positif.
Dukungan suporter menjadi faktor yang disebut Caldas dalam pernyataannya. Arema FC identik dengan basis pendukung besar di Malang Raya, dan tekanan dari tribun bisa menjadi pedang bermata dua bagi pelatih interim.
Stabilitas internal tim disebut Caldas sebagai kunci menjaga kebangkitan dari keterpurukan. Dengan komposisi staf yang sudah mengenal karakter pemain, proses adaptasi diharapkan berjalan lebih cepat dibanding kedatangan pelatih dari luar.
Arema FC masih menyisakan sejumlah laga di BRI Super League 2026/2027. Poin dari pertandingan-pertandingan tersebut akan menentukan apakah Caldas mampu membuktikan bahwa Singo Edan masih memiliki taring, atau justru memperpanjang masa sulit klub kebanggaan warga Malang Raya.