Pencarian

Maluku Terang 2027: Ary Sahertian Soroti 97 Desa di 8 Kabupaten Kota yang Masih Gelap, Kepulauan Aru Terbanyak

Jumat, 21 Agustus 2026 • 20:32:01 WIB
Maluku Terang 2027: Ary Sahertian Soroti 97 Desa di 8 Kabupaten Kota yang Masih Gelap, Kepulauan Aru Terbanyak
Energi listrik masih belum menjangkau 97 desa di delapan kabupaten dan kota di Maluku, dengan Kepulauan Aru sebagai wilayah terbanyak.

AMBON — Target elektrifikasi Maluku Terang 2027 menghadapi pekerjaan rumah besar. Ary Sahertian, anggota Komisi II DPRD Provinsi Maluku, mendesak pemerintah daerah dan PT PLN (Persero) untuk memprioritaskan 97 desa yang hingga saat ini masih belum teraliri listrik, terutama di kawasan kepulauan dan terpencil.

Desakan ini disampaikan Sahertian di Ambon, Jumat (21/8/2026), menindaklanjuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPRD Maluku bersama jajaran direksi PT PLN (Persero) Pusat yang digelar sehari sebelumnya.

Sebaran 97 Desa Tanpa Listrik: Aru Mendominasi

Data yang disampaikan PLN dalam RDP memetakan 97 desa tersebut ke delapan kabupaten dan kota. Kepulauan Aru menjadi wilayah dengan persoalan paling pelik, mencapai 66 desa. Disusul Maluku Barat Daya dengan 9 desa, Kepulauan Tanimbar 8 desa, dan Maluku Tenggara 4 desa.

Wilayah lain yang masuk daftar adalah Kota Tual dan Seram Bagian Timur masing-masing 3 desa, Maluku Tengah 3 desa, serta Kabupaten Buru dengan 1 desa.

“Kalau kita mau bicara Maluku Terang 2027, maka 97 desa yang belum menikmati listrik ini harus menjadi perhatian utama. Kita harus memastikan, ada langkah konkret untuk menyelesaikannya,” kata Sahertian.

Pendekatan Khusus untuk Wilayah Kepulauan

Sahertian menilai karakteristik geografis Maluku yang terdiri dari pulau-pulau kecil tidak bisa diselesaikan dengan pola pembangunan jaringan konvensional. Setiap desa perlu dipetakan berdasarkan kondisi geografis, akses transportasi, dan kebutuhan masyarakatnya.

“Maluku ini daerah kepulauan. Karena itu, kita tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama untuk semua wilayah. Desa yang berada di pulau-pulau kecil, dan daerah terpencil tentu membutuhkan penanganan yang berbeda,” ujarnya.

Ia mendorong pemerintah daerah bersama PLN menyusun peta jalan yang jelas dan terukur. Target penyelesaian harus spesifik, mencakup desa mana yang dikerjakan lebih dulu dan kapan masyarakat mulai menikmati listrik.

Listrik Penggerak Pendidikan dan Usaha Warga

Anggota DPRD itu menegaskan listrik bukan sekadar penerangan, melainkan fondasi bagi aktivitas pendidikan, usaha mikro, hingga pelayanan publik di desa. Tanpa listrik, anak-anak kesulitan belajar malam hari dan usaha masyarakat tidak bisa berkembang.

“Listrik bukan sekadar penerangan. Ketika listrik masuk, banyak aktivitas masyarakat yang ikut bergerak. Pendidikan bisa lebih baik, usaha bisa berkembang dan pelayanan publik juga semakin mudah,” katanya.

Sahertian berharap dukungan pemerintah pusat dan koordinasi lintas sektor dapat mempercepat pembangunan kelistrikan di wilayah dengan tantangan geografis tinggi. Komisi II DPRD Maluku, kata dia, akan mengawal proses ini agar desa-desa yang selama ini terlewat tidak kembali diabaikan dalam perencanaan pembangunan.

Follow kabartual.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: teropongnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks