JAKARTA — IHSG berhasil mempertahankan level psikologis di atas 5.900 pada awal pekan ini. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai selama indeks mampu bertahan di area support 5.900-5.882, peluang technical rebound masih terbuka dengan target menguji level 5.948 hingga 6.000.
Optimisme Saham AI Dorong Sentimen Positif
Sentimen pasar global kembali bergairah setelah saham SK Hynix, perusahaan semikonduktor asal Korea Selatan, ditutup melonjak 13 persen di atas harga IPO dalam debutnya di bursa Nasdaq. Lonjakan ini menghidupkan kembali narasi kecerdasan buatan yang sempat meredup.
“Meredanya harga minyak membantu menenangkan kekhawatiran pasar terhadap risiko inflasi akibat konflik di Timur Tengah,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Investor kini mulai melakukan posisi menjelang musim laporan keuangan kuartal II-2026. Konsensus pasar memperkirakan laba emiten S&P 500 tumbuh sekitar 24 persen year on year, terutama ditopang oleh sektor teknologi dan AI.
Ketegangan Timur Tengah dan Restitusi Pajak Jadi Perhatian
Di sisi geopolitik, pelaku pasar masih mewaspadai pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan kesediaan melanjutkan pembicaraan dengan Iran, meskipun gencatan senjata yang disepakati pada Juni 2026 telah berakhir. Ketidakpastian ini membuat investor tetap waspada terhadap potensi gejolak harga minyak.
Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada realisasi restitusi pajak yang mencapai Rp171,2 triliun pada semester I-2026, turun 31,5 persen year on year. Penurunan ini terutama disebabkan oleh restitusi PPh Badan yang minus 40 persen dan PPN Dalam Negeri yang minus 29,7 persen.
Liza menilai perlambatan restitusi tersebut mengindikasikan adanya penundaan pencairan untuk menjaga arus kas pemerintah. “Meskipun mendukung likuiditas fiskal dalam jangka pendek, kebijakan ini berpotensi menekan likuiditas dunia usaha dan meningkatkan kewajiban pembayaran pemerintah pada periode berikutnya,” jelasnya.
Pemerintah Genjot Pembiayaan, Pasar Obligasi Stabil
Pemerintah telah menaikkan outlook pembiayaan APBN 2026 menjadi Rp734,3 triliun dari target awal Rp689,1 triliun. Realisasi pembiayaan hingga semester I-2026 mencapai Rp452 triliun, atau 65,6 persen dari pagu awal.
Kementerian Keuangan menyebut tingginya realisasi itu merupakan strategi front loading untuk mengantisipasi ketidakpastian pasar di awal tahun. Dengan stabilnya pasar obligasi domestik dan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp255 triliun, pemerintah memiliki ruang untuk mengurangi intensitas penerbitan utang pada semester II-2026.
Ke depan, pembiayaan tetap difokuskan pada instrumen rupiah (70-75 persen), sementara penerbitan global bond akan dilakukan secara oportunistis sesuai kondisi pasar.
Bursa Global Variatif, Wall Street Menguat
Pada perdagangan Jumat (11/7), bursa Eropa bergerak variatif. Euro Stoxx 50 melemah 0,23 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,24 persen, DAX Jerman melemah 0,20 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 0,15 persen.
Sementara itu, bursa Wall Street kompak menguat. Indeks S&P 500 naik 0,42 persen ke 7.575,39, Nasdaq Composite menguat 0,29 persen ke 26.281,61, dan Dow Jones Industrial Average naik 0,29 persen ke 52.637,01.
Di Asia pagi ini, mayoritas bursa melemah. Nikkei turun 1,47 persen, Shanghai melemah 0,83 persen, dan Strait Times minus 0,19 persen. Adapun Hang Seng justru menguat 0,63 persen.