DOBO — Euforia Piala Dunia 2026 yang berlangsung sejak 11 Juni hingga 19 Juli benar-benar terasa di pelosok Maluku. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru bersama Polres setempat memfasilitasi pawai suporter yang dirangkai dengan deklarasi damai, Kamis (11/6/2026).
Peserta memadati jalur pawai dengan mengenakan jersey dan atribut kebanggaan masing-masing. Suasana makin meriah ketika Wakil Bupati Kepulauan Aru, Muhammad Djumpa, tiba dengan jersey Timnas Argentina. Para pendukung La Albiceleste yang berkumpul di halaman Kantor Bupati langsung menyambutnya dengan antusias.
Di sisi lain, Bupati Timotius Kaidel memilih tampil dengan jersey Timnas Indonesia. Penampilan keduanya memicu candaan dan rasa penasaran peserta soal tim mana yang sebenarnya mereka jagokan.
Pesan Bupati: Beda Dukungan, Tetap Satu Bangsa
Dalam arahannya, Bupati Kaidel menekankan pentingnya persatuan di tengah perbedaan dukungan. “Boleh berbeda dukungan dan saling bercanda, tetapi kita semua tetap satu sebagai bangsa Indonesia,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia juga mengingatkan agar para suporter tidak melakukan konvoi ugal-ugalan atau mengabaikan aturan lalu lintas. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kata dia, harus menjadi pelajaran agar perayaan sepak bola tidak berujung pada kecelakaan atau korban jiwa.
“Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena kelalaian di jalan. Keselamatan harus tetap menjadi prioritas,” tegas Bupati Kaidel.
Polres Fasilitasi Deklarasi demi Keamanan Bersama
Polres Kepulauan Aru turut berperan dalam mengawal jalannya acara. Deklarasi damai antar suporter ini dimaksudkan untuk mencegah gesekan antarkelompok pendukung yang kerap terjadi saat perhelatan akbar seperti Piala Dunia.
Pawai yang dimulai dari halaman Kantor Bupati itu berlangsung tertib. Para peserta mengikuti rute yang telah ditentukan tanpa insiden berarti. Petugas kepolisian berjaga di sejumlah titik untuk memastikan kelancaran lalu lintas dan keamanan peserta.
Kegiatan ini menjadi salah satu contoh bagaimana euforia sepak bola bisa disalurkan secara positif di daerah. Perbedaan jersey yang dikenakan Bupati dan Wakil Bupati justru menjadi simbol bahwa rivalitas di lapangan tak perlu merusak kebersamaan.