AMBON — Janne Pattiasina menegaskan, jarak antarpulau dan keterbatasan akses transportasi membuat sebagian warga di wilayah terpencil masih sulit mendapat layanan dokter spesialis. POGI Maluku, kata dia, harus mengambil peran lebih besar agar hak setiap perempuan atas pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas tidak ditentukan oleh lokasi tempat tinggal.
Pelantikan pengurus baru menjadi titik awal penataan organisasi. Janne menyebut kepengurusan yang solid dan profesional menjadi modal untuk menjalankan program pengabdian di daerah kepulauan.
Mengapa Jarak Antarpulau Jadi Hambatan Layanan Spesialis
Menurut Janne, karakteristik Maluku yang terdiri dari pulau-pulau menimbulkan tantangan tersendiri dalam pemerataan pelayanan kesehatan. Selain jarak, keterbatasan fasilitas kesehatan di sejumlah titik memperlebar kesenjangan antara layanan di kota dan di pulau terluar.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, ujarnya, tidak cukup bekerja di ruang praktik, kamar operasi, atau rumah sakit. Tanggung jawab profesi itu harus diwujudkan lewat kegiatan pelayanan dan pengabdian yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
"POGI harus hadir di tengah masyarakat, POGI harus menjangkau pulau-pulau, POGI harus menjadi bagian dari solusi atas permasalahan kesehatan di Maluku," tegas Janne.
Edukasi Kesehatan Reproduksi hingga Deteksi Dini Kanker Serviks
Program pengabdian POGI Maluku diarahkan pada edukasi kesehatan reproduksi dan pelayanan kesehatan ibu. Deteksi dini kanker serviks masuk daftar prioritas, bersama upaya pencegahan kematian ibu dan bayi.
Penguatan kompetensi anggota juga menjadi agenda. Janne ingin kepengurusan baru memperkuat komunikasi, persatuan, dan kebersamaan seluruh dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Maluku.
Persoalan kesehatan perempuan, menurut dia, tidak bisa diselesaikan satu profesi atau satu institusi. POGI Maluku akan membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, dinas kesehatan, rumah sakit, institusi pendidikan, dan organisasi profesi lain.
"Kami percaya, persoalan kesehatan perempuan tidak dapat diselesaikan oleh satu profesi atau satu institusi saja. Diperlukan kolaborasi, komunikasi dan komitmen bersama," ujarnya.
Ukuran Keberhasilan Bukan Kuatnya Struktur Organisasi
Janne menilai keberhasilan POGI Maluku tidak cukup diukur dari rapi atau tidaknya struktur organisasi. Ukuran sesungguhnya, kata dia, terlihat dari kerja nyata dan pengabdian yang dirasakan masyarakat.
Ia berharap POGI Wilayah Maluku dikenal bukan hanya sebagai organisasi profesi, tetapi juga sebagai lembaga yang memberi kontribusi nyata bagi warga kepulauan.
"Jarak antar pulau tidak boleh menjadi jarak dalam memperoleh pelayanan kesehatan. Mari kita jadikan POGI Wilayah Maluku sebagai organisasi yang tidak hanya kuat dalam struktur, tetapi juga nyata dalam karya dan pengabdian," tandasnya.
Kepada Pengurus Besar POGI, Janne menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan. Ia berharap bimbingan dan dukungan terus mengalir agar organisasi di Maluku tumbuh lebih kuat dan profesional.
Bagi anggota, kepengurusan baru diharapkan menjadi rumah bersama untuk berdiskusi, berkolaborasi, dan saling menghargai dalam menjalankan tanggung jawab profesi. Janne menutup sambutannya dengan satu kalimat: "POGI Maluku bersatu dalam karya."