AMBON — Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena menyatakan persoalan lingkungan di Ambon dan Maluku tidak bisa diselesaikan satu pihak saja. Pencemaran sampah di Teluk Ambon dan sedimentasi yang mengancam ekosistem bawah laut disebutnya butuh kajian ilmiah sebelum kebijakan diambil.
"Masalah-masalah ini harus dikaji dan didiskusikan dalam forum ilmiah berbasis pengetahuan (science-based) agar menghasilkan solusi yang tepat dan dapat diterapkan," kata Bodewin di Ambon, Kamis (29/10/2026).
Forum ICESAS Jadi Wadah Pertukaran Hasil Riset
Pernyataan itu disampaikan Bodewin saat menutup The 2nd International Conference on Environmental Science, Agriculture, and Sustainability (ICESAS) di salah satu hotel di Suli, Kabupaten Maluku Tengah. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan puncak perayaan Dies Natalis ke-22 Pascasarjana Universitas Pattimura (Unpatti).
Menurut Bodewin, konferensi internasional itu menjadi wadah pertukaran hasil penelitian dan inovasi di bidang lingkungan, pertanian, serta pembangunan berkelanjutan. Forum tersebut juga dinilai memperkuat jejaring akademis dan strategis antarpemangku kepentingan.
Potensi Laut Maluku dan Tantangan Ekologis yang Mengiringi
Ambon dan Maluku memiliki kekayaan alam, laut, dan pesisir yang perlu dikelola secara berkelanjutan. Namun, potensi tersebut menghadapi berbagai tantangan ekologis yang menuntut penanganan terintegrasi, bukan pendekatan sektoral.
Pemkot Ambon menyambut baik prosiding dan rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dalam konferensi tersebut. Bodewin berharap hasil kajian akademis dapat diterapkan secara konkret untuk mendukung pembangunan daerah dan pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
Unpatti Jadi Mitra Strategis Pemkot Ambon
"Selama ini Unpatti telah menjadi mitra strategis Pemkot Ambon. Kami berharap kolaborasi lintas disiplin ini terus berlanjut demi mewujudkan pembangunan Kota Ambon yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan," ujar dia.
Kolaborasi yang didorong Pemkot Ambon mencakup perguruan tinggi, pemerintah, pelaku industri, dan mitra pembangunan. Skema itu diarahkan menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di daerah tersebut.