Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia berpotensi bergerak sideways pada perdagangan Selasa, dengan pelaku pasar menantikan respons Bank Indonesia terhadap pengetatan moneter sejumlah bank sentral dunia. IHSG dibuka menguat, lalu melemah 34,99 poin atau 0,55 persen ke posisi 6.349,74 pada pukul 09.55 WIB. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan indeks menguji level 6.300-6.350, meski turunnya harga minyak dan penguatan bursa global berpotensi membatasi pelemahan.
JAKARTA — Sebanyak tiga agenda besar menanti pelaku pasar saham Indonesia pekan ini: hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22-23 September 2026, penerapan batas harga terendah saham Rp1 pada 28 September 2026, dan penerbitan Daftar Efek Short Selling di tanggal yang sama. Ketiganya berlangsung di tengah tekanan eksternal dari kenaikan suku bunga acuan The Fed, Bank of Japan, dan European Central Bank masing-masing 25 basis poin pada September 2026.
Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 3,06 poin atau 0,48 persen ke posisi 631,23. Pelemahan terjadi setelah IHSG sempat dibuka menguat.
Respons BI Ditentukan Sikap The Fed dan ECB
Pelaku pasar bersikap hati-hati menantikan hasil RDG BI pekan ini. Langkah bank sentral Indonesia itu dinilai akan merespons pengetatan moneter yang dilakukan sejumlah bank sentral dunia untuk meredam lonjakan inflasi akibat krisis energi.
Ratna Lim menyebutkan tiga bank sentral yang sudah menaikkan suku bunga acuan pada September 2026, yakni The Fed, Bank of Japan, dan European Central Bank.
"Diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.300-6.350 pada perdagangan Selasa. Namun turunnya harga minyak dan penguatan pada indeks bursa global berpotensi membatasi pelemahan indeks," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Batas Harga Terendah Rp1 Berlaku 28 September 2026
Bursa Efek Indonesia akan menerapkan batasan harga terendah saham menjadi Rp1 mulai 28 September 2026. Penyesuaian itu diikuti perubahan ketentuan Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) untuk efek bersifat ekuitas dan Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA) yang diperdagangkan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai.
Ratna menilai kebijakan tersebut berdampak positif terhadap likuiditas pasar, mekanisme pembentukan harga yang wajar (price discovery), serta membuka jalan keluar bagi investor yang modalnya terjebak menahun di saham ARB pada level Rp50.
"Di lain pihak, kebijakan ini juga membawa dampak negatif berupa risiko kerugian modal (capital loss) yang besar, tingginya volatilitas spekulatif pada saham di bawah harga Rp50 per saham, serta potensi jebakan ilusi harga murah bagi investor ritel pemula," ujar Ratna.
Short Selling dan Pertemuan Trump-Xi Jinping
BEI juga akan menerbitkan Daftar Efek Short Selling pada 28 September 2026, dengan transaksi short selling berlaku efektif mulai Oktober 2026.
Dari mancanegara, perhatian pelaku pasar tertuju pada kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat. Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Xi Jinping membahas kecerdasan buatan (AI), tarif, hingga mineral kritis.
Pertemuan tersebut dicermati terkait gejolak harga minyak mentah akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Menteri Keuangan AS telah bertemu Wakil Perdana Menteri China menjelang kunjungan itu. Pelaku pasar juga mencermati upaya Arab Saudi mengimbangi penutupan jalur pipa yang krusial.
Prediksi kenaikan suku bunga The Fed selanjutnya turut diperhatikan. Potensi kenaikan berikutnya diperkirakan memicu kembali ketegangan antara pemerintah dan bank sentral menjelang Pemilu AS pada November 2026.
Bursa Global Kompak Menguat
Bursa Eropa menguat pada penutupan Senin (21/09): Euro Stoxx 50 naik 1,31 persen, FTSE 100 Inggris 0,75 persen, DAX Jerman 1,07 persen, dan CAC 40 Prancis 0,92 persen.
Wall Street juga kompak menguat. S&P 500 naik 1,49 persen ke level 7.764,70, Nasdaq Composite 2,26 persen ke 27.122,09, dan Dow Jones Industrial Average 0,71 persen ke 52.048,83.
Di Asia pagi ini, indeks Shanghai menguat 0,36 persen ke 3.964,46, Kospi 1,64 persen ke 7.120,45, Hang Seng 0,57 persen ke 25.186,24, Kuala Lumpur 0,54 persen ke 1.676,02, dan Straits Times 0,44 persen ke 5.700,10. Indeks Nikkei Jepang libur memperingati Citizen's Holiday.