MALUKU — Jakarta — Proses produksi BBM tidak sesederhana menyalurkan minyak mentah ke tangki penyimpanan. Di balik setiap liter bensin, solar, dan avtur yang keluar dari SPBU atau bandara, ada serangkaian prosedur rumit untuk memastikan produk tersebut benar-benar bersih dari zat pengotor.
Mengelola Racun Alami dalam Minyak Mentah
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa impurities seperti sulfur, garam, asam naftenat, nitrogen, hingga logam berat (nikel, vanadium, dan merkuri) adalah kandungan yang terbawa secara alami dari perut bumi. “Proses ini mencegah agar zat-zat tersebut tidak mengontaminasi minyak mentah dan menghambat kinerja kilang sehingga produk kilang tetap terjaga kualitasnya,” ujar Roberth dalam keterangan resmi, Senin (15/6/2026).
Ia menegaskan, pengelolaan impurities bukan sekadar urusan teknis operasional. “Dan yang terpenting adalah untuk menjaga kepercayaan publik pada kualitas produk-produk BBM yang dihasilkan Pertamina Patra Niaga,” tegasnya.
Tiga Tahap Penyaringan di Enam Kilang
Untuk memastikan hasil akhir tetap prima, Pertamina Patra Niaga menerapkan tiga tahapan utama di enam kilang yang beroperasi. Tahap pertama adalah menjaga fleksibilitas operasi melalui seleksi dan pencampuran crude oil. Pertamina menggunakan sistem bernama Crude Acceptance Matrix (CAM) dan teknik blending, sehingga minyak mentah dengan kandungan impurities tinggi pun tetap bisa diolah dengan aman.
Proses ini ibarat meracik bahan baku: minyak mentah dari berbagai sumber dicampur dengan proporsi tertentu agar karakteristiknya sesuai dengan spesifikasi kilang. Dengan begitu, risiko kerusakan peralatan akibat korosi atau penyumbatan bisa ditekan, dan produk akhir tetap sesuai standar.
Dampak Langsung ke Konsumen
Bagi pengguna BBM di Indonesia, jaminan kualitas ini berarti performa mesin yang lebih stabil dan usia pakai komponen yang lebih panjang. Bensin dengan kadar sulfur rendah, misalnya, tidak hanya lebih ramah lingkungan tetapi juga mengurangi endapan karbon di ruang bakar. Sementara itu, avtur yang bebas kontaminasi logam berat menjadi syarat mutlak keselamatan penerbangan.
Pertamina Patra Niaga mengelola rantai pasok BBM dari hulu ke hilir, mencakup enam kilang utama yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dengan volume produksi yang melayani jutaan konsumen setiap harinya, konsistensi kualitas menjadi faktor yang tidak bisa ditawar.
Melalui pengelolaan impurities yang ketat, Pertamina Patra Niaga berupaya menjaga agar setiap tetes BBM yang keluar dari kilang hingga ke tangan konsumen benar-benar layak pakai — bukan sekadar cairan yang bisa membakar mesin, tetapi bahan bakar yang terukur kualitasnya.