MALUKU — Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengumpulkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan pimpinan Komisi XI DPR Moh. Hekal dalam satu forum. Pertemuan yang berlangsung di kompleks parlemen itu menyikapi pelemahan rupiah yang terus berlanjut hingga menyentuh level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Sinergi Fiskal-Moneter Jadi Andalan
Dasco memastikan seluruh pihak sepakat untuk memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter. Tujuannya, menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih tinggi.
"Pemerintah, Bank Indonesia, serta otoritas fiskal dan moneter memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional," tulis Dasco di akun Instagram pribadinya usai pertemuan.
Dari hasil diskusi, kata Dasco, lahir beberapa kesepakatan yang langsung disampaikan oleh masing-masing otoritas. Ia menyebut keputusan itu akan menjadi pegangan untuk menjaga kondisi ekonomi ke depan.
Mensesneg: Sinyal Koordinasi yang Kita Harapkan
Mensesneg Prasetyo Hadi yang hadir mewakili Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyambut positif pertemuan tersebut. Ia menilai forum ini menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa pemerintah dan DPR bergerak seirama.
"Saya kira ini sebuah gambaran sinyal yang memang kita harapkan terjadinya koordinasi yang erat, koordinasi yang intens di antara seluruh pemangku kepentingan ekonomi," ujar Prasetyo.
Ia optimistis hasil diskusi dan kesepakatan yang dicapai dapat memperkuat kepercayaan pasar. Pada gilirannya, hal itu diharapkan mendukung penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Tekanan Global dan Respons Cepat Otoritas
Pelemahan rupiah ke level Rp 18.000 per USD bukan fenomena baru di negara berkembang. Namun, respons cepat berupa pertemuan lintas lembaga menunjukkan kekhawatiran serius pemerintah terhadap dampak lanjutan, seperti inflasi impor dan tekanan pada utang luar negeri.
Bank Indonesia selama ini telah mengintervensi pasar valas dan menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik modal asing. Sementara Kementerian Keuangan menjaga defisit APBN tetap dalam batas aman.
Pertemuan di DPR menjadi panggung untuk menyelaraskan dua instrumen itu agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Langkah ini dinilai krusial karena tekanan eksternal, seperti kenaikan suku bunga acuan The Fed, belum menunjukkan tanda mereda.
Tindak Lanjut dan Jadwal Evaluasi
Meski belum dirinci secara detail, Dasco menyebut kesepakatan yang dihasilkan akan segera diimplementasikan oleh masing-masing lembaga. Pemerintah dan BI dijadwalkan menggelar rapat koordinasi lanjutan dalam pekan depan untuk memonitor efektivitas langkah yang telah disepakati.
Para pelaku pasar menanti realisasi kebijakan konkret, bukan sekadar pernyataan. Sebab, kepercayaan investor terhadap stabilitas rupiah sangat bergantung pada aksi nyata di lapangan, bukan hanya koordinasi di ruang rapat.