AMBON — Aksi kekerasan yang melibatkan seorang anggota Brimob terhadap warga sipil lansia terjadi di Kota Ambon. Korban, seorang kakek berusia 60 tahun, diduga menjadi sasaran amuk oknum aparat hingga mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya. Peristiwa ini sontak memicu kemarahan publik dan menjadi perbincangan hangat di jagat maya.
Awal Mula: Apa yang Memicu Penganiayaan?
Belum diketahui secara pasti kronologi lengkap yang memicu aksi pemukulan tersebut. Namun, dari video yang beredar di masyarakat, tampak seorang pria berseragam Brimob terlibat cekcok dengan korban sebelum akhirnya melayangkan pukulan bertubi-tubi. Korban yang sudah renta tidak berdaya melawan dan terlihat jatuh tersungkur.
Warga sekitar yang menyaksikan kejadian sempat berusaha melerai, namun situasi sempat memanas. Video amatir itu kemudian menyebar luas dan menuai kecaman dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat dan aktivis hak asasi manusia.
Proses Hukum: Pelaku Sudah Diamankan?
Pihak Kepolisian Daerah Maluku bergerak cepat menanggapi laporan dan viralnya video tersebut. Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Maluku langsung turun tangan melakukan investigasi internal.
“Kami sudah mengamankan anggota yang diduga terlibat. Proses pemeriksaan sedang berjalan untuk mengetahui motif dan memastikan tidak ada pelanggaran prosedur,” ujar Kabid Humas Polda Maluku, dikutip dari keterangan resminya.
Polisi memastikan akan menindak tegas oknum tersebut sesuai dengan aturan disiplin dan kode etik Polri. Jika terbukti melakukan kekerasan berlebihan, pelaku terancam sanksi berat hingga pemecatan.
Dampak: Trauma Korban dan Tuntutan Warga
Akibat kejadian ini, sang kakek dilaporkan mengalami trauma psikologis selain luka fisik. Pihak keluarga korban mendesak agar proses hukum berjalan transparan dan pelaku dihukum seberat-beratnya.
“Kami tidak terima. Kakek saya tidak salah apa-apa, malah dipukuli seperti itu. Kami minta keadilan,” ujar salah seorang anggota keluarga korban di Ambon.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan terhadap anggota kepolisian di lapangan. Publik berharap agar kasus serupa tidak terulang dan institusi Polri mampu membersihkan anggotanya yang bertindak di luar batas.
Apa Langkah Selanjutnya?
Propam Polda Maluku saat ini masih mendalami pemeriksaan terhadap sejumlah saksi di lokasi kejadian. Hasil penyelidikan dijadwalkan akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.
“Kami akan mengumumkan hasilnya secara terbuka. Tidak ada toleransi bagi anggota yang melanggar hukum,” tegas perwakilan Polda Maluku.
Kasus ini menjadi pengingat bagi seluruh aparat untuk selalu mengedepankan pendekatan humanis dalam bertugas, terlebih saat berhadapan dengan warga sipil yang rentan.