MALUKU — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi 77,72 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori menengah pada dasarian pertama November 2026. Prakiraan itu termuat dalam laporan cuaca sepekan periode 27 Oktober hingga 2 November 2026, meski El Nino kuat dan IOD positif masih menahan sebagian wilayah dalam kondisi kering.
BMKG merinci bahwa curah hujan kategori menengah setara 50-150 milimeter per dasarian. Sebanyak 20,72 persen wilayah lain diprediksi hanya mendapat curah hujan rendah 0-50 milimeter per dasarian, sementara 1,56 persen sisanya masuk kategori tinggi 150-300 milimeter per dasarian.
Wilayah yang Masih Kering
Curah hujan rendah diperkirakan bertahan di sebagian Lampung, Banten, DKI Jakarta, pesisir utara Jawa, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Sulawesi dan Maluku. Pola ini muncul karena El Nino yang sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif masih menekan pembentukan awan hujan di kawasan tersebut.
Kondisi atmosfer tidak seragam. Pada 22-25 Oktober, suhu udara maksimum menembus 38 derajat Celsius di sejumlah titik Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Di periode yang sama, hujan lebat justru tercatat 187 milimeter per hari di Aceh dan 103 milimeter per hari di Sumatera Utara.
Musim Hujan Mundur 20-30 Hari
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan rata-rata awal musim hujan tahun ini bergeser dari kebiasaan. Sebagian wilayah baru akan diguyur hujan pada November, sebagian lain menunggu hingga Desember.
"Musim hujan rata-rata di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20-30 hari, akibat pengaruh El Nino," kata Faisal di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (26/10).
Pergeseran itu berdampak langsung ke sektor pertanian dan pengelolaan air. Petani yang biasanya mulai tanam pada Oktober harus menyesuaikan jadwal, sementara operator waduk perlu menghitung ulang alokasi air untuk kebutuhan irigasi dan rumah tangga.
Pemicu Hujan Lokal Masih Aktif
Meski akumulasi curah hujan per dasarian tergolong rendah hingga menengah, BMKG mengingatkan hujan sedang hingga lebat masih bisa terjadi harian. Pemicunya adalah Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif di Indonesia bagian barat dan selatan, ditambah Gelombang Rossby Ekuatorial, Mixed Rossby-Gravity (MRG), dan Gelombang Kelvin di wilayah utara.
BMKG juga memantau pembentukan sirkulasi siklonik di Laut Andaman dan Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya. Kedua sistem itu membentuk daerah perlambatan dan pertemuan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan. Hujan berpotensi disertai kilat, petir, dan angin kencang.
Karhutla Masih Jadi Ancaman
Di sisi lain, kondisi kering meninggalkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Selama 10 hari terakhir, BMKG memantau 4.098 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan, 879 titik di Papua Selatan, dan 784 titik di Sumatera Selatan.
Asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. BMKG menegaskan titik panas tidak selalu berarti kebakaran terjadi, tetapi lonjakan jumlahnya perlu diwaspadai untuk mempercepat mitigasi.
Bagi pengguna smartphone, informasi dasarian terbaru bisa dipantau lewat kanal resmi BMKG dan aplikasi Info BMKG. Bagi pelaku usaha yang bergantung pada cuaca, seperti logistik, perkebunan, dan e-commerce, prakiraan ini jadi dasar untuk mengatur jadwal pengiriman dan stok sebelum puncak musim hujan tiba.