MALUKU — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memerintahkan Perum Bulog menambah pasokan beras premium hingga 300 ribu ton ke ritel modern, Senin (21/9), demi mengatasi kelangkaan di sejumlah gerai. Jumlah itu masih bisa dinaikkan tiga kali lipat jika pasar membutuhkan lebih banyak.
Perintah itu disampaikan Amran dalam konferensi pers di kediamannya, Jakarta Selatan. Ia menyebut stok beras pemerintah masih melimpah, sehingga penambahan pasokan bisa dilakukan tanpa mengganggu cadangan nasional. Amran juga meminta Bulog menyiapkan gudang tambahan guna menampung sisa stok yang belum tersalurkan.
"Sudahlah kalau 200 (ribu ton), 300 ribu (ton), (Bulog) berasnya banyak. Ya, kamu aja sampaikan bahwa diperintahkan, tulis judulnya, Menteri Pertanian memerintahkan Bulog sebagai Kepala Bapanas, 300 ribu bila perlu kali tiga," ujar Amran.
Stok Pemerintah Capai 4,6 Juta Ton
Amran memastikan cadangan beras yang dipegang pemerintah saat ini berada di kisaran 4,6 juta ton hingga 5 juta ton. Untuk menampung volume sebesar itu, pemerintah menyewa gudang berkapasitas 2 juta ton.
"Kami sudah perintahkan Bulog. Berasnya banyak, kurang lebih 5 juta ton, 4,6 (juta ton) hari ini. Kita sewa gudang 2 juta ton. Udah, kita kirim. Beras aman," katanya.
Dengan stok sebesar itu, pemerintah menilai penambahan pasokan ke ritel tidak akan menguras cadangan untuk kebutuhan lain, termasuk operasi pasar dan bantuan pangan.
Bulog Sudah Kantongi Pesanan dari 10 Ritel
Sebelum instruksi Amran turun, Bulog telah lebih dulu menyiapkan pasokan untuk mengisi kekosongan beras premium. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan pihaknya akan menyalurkan 110 ribu ton beras ke 10 ritel modern selama satu bulan.
Rinciannya, 75 ribu ton beras premium dan 35 ribu ton beras medium. Sejumlah peritel yang sudah memesan antara lain Indomaret, Alfamart, Tip Top, Indogrosir, dan Hero.
Untuk segmen premium, Bulog menyalurkan produk BeeFood dengan harga Rp74.500 per kemasan 5 kilogram. Harga itu menjadi acuan bagi konsumen yang selama ini kesulitan menemukan beras premium di gerai modern.
Beras Medium "Beras Kita" Tetap Meluncur
Amran menegaskan program penyaluran beras Bulog ke ritel modern berjalan tanpa perubahan. Rencana peluncuran beras medium bermerek Beras Kita juga tidak dibatalkan.
"Jalan terus (penyaluran beras Bulog ke ritel). Berasnya banyak, stoknya banyak," ujarnya.
Langkah ini ditempuh di tengah upaya pemerintah membenahi masalah beras fortifikasi. Badan Pangan Nasional sebelumnya menemukan 25 merek beras fortifikasi bermasalah yang dimiliki 11 pelaku usaha, dengan persoalan pada aspek administrasi, nilai gizi, dan mutu.
Hingga pekan pertama September 2026, seluruh merek bermasalah itu sudah menghentikan produksi. Sebanyak 12 merek menarik stok dari peredaran, sementara sisanya masih dalam proses penarikan.
Pengawasan Bapanas pada Juli-Agustus 2026 berlangsung di 11 provinsi dengan 190 sampel beras fortifikasi yang mewakili 27 nama dagang. Hasil pengujian menemukan produk dengan nilai gizi tak sesuai klaim label, serta produk tanpa izin edar Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT).
Bagi konsumen, tambahan 300 ribu ton dari Bulog menjadi sinyal bahwa kekosongan rak beras premium di gerai modern akan segera terisi. Bagi pelaku usaha ritel, kepastian pasokan ini menjaga ritme penjualan di tengah permintaan yang belum surut.