Pencarian

Sejarah Kelam KNIL Maluku: Antara Loyalitas Prajurit dan Sistem Kolonial yang Mempertahankan Penjajahan

Sabtu, 27 Juni 2026 • 20:19:31 WIB
Sejarah Kelam KNIL Maluku: Antara Loyalitas Prajurit dan Sistem Kolonial yang Mempertahankan Penjajahan
Prajurit KNIL asal Maluku berperan dalam sistem kolonial Belanda selama masa penjajahan.

AMBON — Seruan pengakuan atas ketidakadilan yang dialami keluarga-keluarga Maluku di Belanda memang wajar dan pantas didukung. Kehidupan di kamp-kamp penampungan, pengangguran yang dipaksakan, serta perasaan ditinggalkan oleh pemerintah Belanda telah meninggalkan luka mendalam. Namun, pengakuan yang sungguh-sungguh tidak akan terwujud tanpa meninjau secara kritis sejarah kolonial Belanda sebelum tahun 1951.

Sejarah masyarakat Maluku di Belanda tidak dimulai saat kedatangan mereka pada 1951, melainkan di Hindia Belanda. Selama puluhan tahun, ribuan orang Maluku menjadi bagian dari KNIL—sebuah masa lalu yang kerap digambarkan dalam istilah kesetiaan, loyalitas, dan pengorbanan. Unsur-unsur itu memang tidak dapat disangkal, dan banyak prajurit Maluku layak dihormati sebagai manusia yang hidup dalam konteks zamannya.

Loyalitas yang Dibangun Sistem Kolonial

Penghormatan terhadap prajurit individu tidak berarti kita harus menerima tanpa kritik sistem yang mereka layani. Program penelitian Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan dan Perang di Indonesia, 1945–1950 menunjukkan secara meyakinkan bahwa Belanda menjalankan perang kolonial untuk memulihkan kekuasaannya di Indonesia. Dalam perang tersebut, kekerasan ekstrem digunakan secara luas.

Penelitian terbaru sejarawan Koos-Jan de Jager mengungkap bahwa sebagian kalangan rohaniwan militer secara aktif membenarkan penggunaan kekerasan tersebut. Para pendeta kerap menggambarkan konflik itu sebagai perang yang secara moral dapat dibenarkan melawan gerakan kemerdekaan Indonesia. Dokumenter Indië verloren… Selling a Colonial War menunjukkan bagaimana pemerintah dan media selama bertahun-tahun menggambarkan perang tersebut sebagai upaya pemulihan ketertiban, padahal kenyataannya itu adalah perang melawan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pilihan dalam Dunia yang Terbatas

Temuan-temuan ini mendorong kita melihat kembali posisi prajurit KNIL asal Maluku dengan cara berbeda. Banyak dari mereka tumbuh dalam masyarakat kolonial di mana loyalitas kepada Belanda ditanamkan melalui pendidikan, gereja, dan militer. Pemerintah kolonial secara sadar berinvestasi dalam membangun loyalitas tersebut—bukan kebetulan, melainkan bagian dari sistem yang mencari dukungan untuk mempertahankan tatanan kolonial.

Hal ini tidak berarti para prajurit Maluku hanya korban atau tidak memiliki tanggung jawab pribadi. Namun, menunjukkan bahwa sejarah mereka lebih kompleks daripada sekadar kisah kesetiaan. Mereka juga merupakan bagian dari sistem kolonial yang digunakan untuk menghadapi rakyat yang berjuang demi kemerdekaan Indonesia, termasuk banyak orang Maluku sendiri yang memilih jalan politik berbeda.

Dua Sisi Pengakuan yang Harus Diakui Sekaligus

Menarik untuk melihat bahwa sebagian pihak dengan tegas menuntut permintaan maaf atas penderitaan masyarakat Maluku di Belanda, tetapi pada saat yang sama tetap mempertahankan pandangan yang hampir tanpa kritik terhadap masa lalu kolonial dan peran KNIL. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: dapatkah kita menuntut pengakuan atas akibat-akibat dari suatu sejarah tanpa juga bersedia menelaah sejarah itu sendiri secara kritis?

Pengakuan yang sejati tidak menuntut penghakiman terhadap para prajurit KNIL sebagai individu. Kisah hidup mereka layak dihormati dan dipahami. Namun penghormatan terhadap manusia tidak boleh berubah menjadi pemuliaan terhadap sistem yang mereka layani. Siapa pun yang ingin berlaku adil terhadap sejarah harus berani mengakui beberapa kebenaran sekaligus: bahwa para prajurit Maluku menunjukkan loyalitas; bahwa mereka telah berkorban; bahwa mereka diperlakukan tidak adil setelah tiba di Belanda; tetapi juga bahwa mereka merupakan bagian dari sistem kolonial yang pada akhirnya bertujuan mempertahankan dominasi Belanda di Indonesia.

Karena itu, perdebatan mengenai pengakuan tidak boleh berhenti pada pertanyaan tentang apa yang dilakukan Belanda terhadap orang-orang Maluku setelah 1951. Perdebatan tersebut juga harus menyangkut peran yang dimainkan Belanda sebelum 1951. Hanya dengan menghubungkan kedua sejarah itu kita dapat memperoleh gambaran yang jujur tentang masa lalu.

Bagikan
Sumber: terasmaluku.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks