MALUKU — Pada pukul 09.35 WIB, rupiah semakin tertekan dan bergerak ke level Rp18.133/US$, memperpanjang tren pelemahan yang sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Tekanan terhadap rupiah semakin berat seiring dengan ekspektasi pasar bahwa suku bunga acuan AS masih akan bertahan tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Dolar AS Kembali Perkasa, Indeks Tembus 100,11
Penguatan dolar AS menjadi biang kerok utama pelemahan rupiah hari ini. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat berada di level 100,11 — level tertinggi dalam sepekan terakhir.
Kenaikan ini didorong oleh data ketenagakerjaan AS yang masih solid, memicu spekulasi bahwa Federal Reserve belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Imbasnya, aliran modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sentimen Hari Ini: Rilis Data Cadangan Devisa
Pelaku pasar kini menanti data cadangan devisa Indonesia yang akan dirilis hari ini. Angka tersebut menjadi indikator kunci bagi ketahanan eksternal ekonomi Indonesia di tengah tekanan nilai tukar.
Jika cadangan devisa tercatat turun signifikan, kekhawatiran akan kemampuan Bank Indonesia (BI) dalam menstabilkan rupiah bisa meningkat. Sebaliknya, posisi yang solid bisa memberi ruang bagi BI untuk melakukan intervensi tanpa khawatir kehabisan amunisi.
Tekanan Berlanjut, Level Psikologis Rp18.200 Mengintai
Sepanjang pekan lalu, rupiah sudah menunjukkan tren melemah akibat sentimen eksternal yang dominan. Hari ini, level psikologis Rp18.200 per dolar AS menjadi garis pertahanan berikutnya yang harus dijaga oleh otoritas moneter.
Bank Indonesia diperkirakan akan terus berada di pasar untuk melakukan intervensi ganda — baik di pasar spot maupun melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) — guna meredam volatilitas yang berlebihan. Namun, efektivitas intervensi sangat bergantung pada arah pergerakan dolar AS secara global.