AMBON — PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) menjadwalkan dua kapal untuk melayani rute Ambon menuju Banda, Maluku, sepanjang Juni 2026. Kedua kapal tersebut adalah KM Pangrango dan KM Labobar, yang masing-masing memiliki jadwal keberangkatan dan kelas layanan yang berbeda.
KM Pangrango: Pilihan Ekonomi dengan Jadwal Terbatas
KM Pangrango dijadwalkan berlayar dari Pelabuhan Ambon menuju Banda pada 1 Juni 2026 pukul 11.00 WIT. Kapal ini menyediakan tiket kelas ekonomi dengan harga mulai dari Rp 49.000 per orang. Perjalanan dari Ambon ke Banda diperkirakan memakan waktu sekitar 8 jam.
Namun, jadwal KM Pangrango hanya tersedia satu kali dalam bulan Juni. Bagi warga yang membutuhkan fleksibilitas waktu, kapal ini mungkin kurang ideal jika dibandingkan dengan opsi lain.
KM Labobar: Frekuensi Lebih Banyak, Kapasitas Besar
KM Labobar dijadwalkan melayani rute yang sama dengan frekuensi lebih tinggi. Kapal ini akan berlayar dari Ambon menuju Banda pada 6, 13, 20, dan 27 Juni 2026. Setiap keberangkatan dijadwalkan pada pukul 23.00 WIT, sehingga penumpang bisa melakukan perjalanan malam hari.
Harga tiket KM Labobar untuk kelas ekonomi mulai dari Rp 56.000 per orang. Dengan kapasitas yang lebih besar, kapal ini menjadi andalan bagi penumpang yang ingin bepergian dengan jadwal yang lebih pasti dan frekuensi mingguan.
Bagaimana Cara Membeli Tiket dan Syarat Perjalanan?
Tiket kedua kapal dapat dibeli melalui aplikasi Pelni, situs resmi, atau langsung di loket pelabuhan. Penumpang diimbau untuk melakukan pemesanan lebih awal, terutama menjelang akhir pekan atau hari libur, karena jumlah kursi terbatas.
Calon penumpang juga wajib membawa kartu identitas asli (KTP atau KK) dan menunjukkan bukti vaksinasi lengkap jika masih diberlakukan. Untuk informasi lebih lanjut, warga dapat menghubungi kantor Pelni cabang Ambon atau mengakses media sosial resmi Pelni.
Dampak bagi Warga Banda dan Wisatawan
Ketersediaan dua kapal dalam satu bulan memberikan angin segar bagi mobilitas warga Banda yang selama ini bergantung pada transportasi laut. Selain untuk keperluan sehari-hari seperti belanja dan urusan administrasi, rute ini juga menjadi jalur utama bagi wisatawan yang ingin mengunjungi benteng-benteng peninggalan Portugis dan Belanda di Kepulauan Banda.
Dengan harga tiket yang relatif terjangkau, di bawah Rp 60.000, moda transportasi ini menjadi pilihan paling ekonomis dibandingkan kapal cepat atau pesawat perintis yang tarifnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah.