Pencarian

Revitalisasi Tradisi Menangkap Ikan Sosoki di Ambalau, Pulau Buru Selatan, Hidup Kembali Setelah 28 Tahun Mati Suri

Rabu, 20 Mei 2026 • 13:44:28 WIB
Revitalisasi Tradisi Menangkap Ikan Sosoki di Ambalau, Pulau Buru Selatan, Hidup Kembali Setelah 28 Tahun Mati Suri
Nelayan dan anak-anak di Ambalau menghidupkan kembali tradisi Sosoki setelah 28 tahun vakum.

AMBON — Suara riuh nelayan dan anak-anak kecil memecah hening pesisir Ambalau, Minggu (17/5/2026) pagi. Mereka bukan sekadar melaut, melainkan menghidupkan kembali tradisi Sosoki—menangkap ikan secara beramai-ramai menggunakan rangkaian daun enau—yang terakhir terlihat pada 1998.

Selama hampir tiga dekade, Sosoki hanya tinggal cerita. Kini, Komunitas Budaya Rumah Film Walang Kreatif menyulapnya menjadi gerakan kolektif yang melibatkan nelayan berusia 8 tahun hingga 20-an tahun.

Dua Sif Melaut, Satu Tujuan: Melestarikan Warisan Bahari

Praktik ramah lingkungan ini berlangsung dalam dua sif: subuh pukul 04.00–06.00 WIT dan sore pukul 17.30–20.00 WIT. Alimudin Mahtelu (27), nelayan muda peserta, mengaku baru pertama kali merasakan langsung tradisi yang selama ini ia dengar dari orang tuanya.

“Alhamdulillah saya sangat termotivasi. Ini menjadi momen mengenal identitas budaya yang selama ini hanya saya dengar lewat kisah orang tua,” ujarnya.

Menurutnya, Sosoki hanya ditemukan di dua pulau di Maluku: Pulau Ambalau dan Pulau Nusalaut, Maluku Tengah. Keduanya menyimpan kekayaan budaya yang langka.

Dari Laut ke Layar: Dokumentasi sebagai Benteng Pelestarian

Ketua Rumah Film Walang Kreatif, Abdul Latif Fakaubun, tak bisa menyembunyikan haru dan bangga. Ia menyaksikan sendiri bagaimana kerja kolektif warga menyatukan generasi tua dan muda.

Agar Sosoki tak kembali hilang, pihaknya mendokumentasikan seluruh prosesi ke dalam film dokumenter dan buku. “Ini sarana edukasi visual modern agar nilai gotong royong Sosoki bisa ditransmisikan ke generasi penerus,” jelas Abdul Latif.

Ia mendesak Kementerian Kebudayaan RI segera menetapkan Sosoki sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) demi perlindungan hukum.

Jawaban Ekonomi Pesisir: Berbiaya Rendah, Ramah Lingkungan

Akademisi Universitas Pattimura, John Pattiasina, yang menyaksikan langsung prosesi di bawah gerbang ikonik Yoma Suli, menyebut Sosoki sebagai solusi konkret bagi tantangan ekonomi pesisir. Saat hasil panen cengkeh di darat tak menentu, laut dengan metode Sosoki hadir sebagai penyelamat berbiaya rendah tanpa merusak alam.

“Namun esensi sejati Sosoki melampaui urusan ekonomi. Di sana ada nilai kebersamaan, persaudaraan, dan keuletan,” tegas John.

Pemerintah Kecamatan Berjanji Kawal Aset Budaya Langka

Sekretaris Kecamatan Ambalau, Bahrun Mahtelu, mengingatkan aset wisata bahari ini tak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Pihak kecamatan berjanji segera berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk mengawal ketat tradisi langka ini.

Pagi dan sore itu, Ambalau tak sekadar menangkap ikan. Mereka menangkap kembali identitas yang sempat hilang—membuktikan bahwa masa depan kelestarian laut justru ada pada kebijakan masa lalu.

Bagikan
Sumber: kabartimurnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks