MALUKU — Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa setiap aset dan modal yang dikelola harus bekerja optimal. "BUMN harus memastikan setiap aset dan modal yang dikelola mampu bekerja secara optimal untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi negara dan masyarakat," ujarnya di Jakarta, Kamis (14/5).
Laba 2025 dan Biaya Transformasi
Sepanjang 2025, laba sebelum pajak (EBT) BUMN diperkirakan mencapai Rp332 triliun. Angka itu belum termasuk kontribusi pajak langsung dan dampak ekonomi lain dari operasional BUMN.
Namun, setelah dilakukan penurunan nilai aset (impairment) sekitar Rp55 triliun, laba bersih BUMN pada 2025 berada di kisaran Rp280-285 triliun. Sebagian keuntungan tahun lalu juga dialokasikan untuk biaya transformasi, termasuk penggabungan entitas BUMN dan strategi korporasi lainnya.
Strategi Pengelolaan Portofolio
Danantara mengoptimalkan portofolio aset melalui pendekatan investasi terukur dan inovatif yang berbasis manajemen risiko. Langkah ini bertujuan mendorong peningkatan imbal hasil serta memperkuat kontribusi BUMN terhadap pendapatan negara.
BP BUMN dan Danantara juga mendorong perusahaan pelat merah untuk menerapkan prinsip efektivitas dan efisiensi di setiap lini. Fokusnya tidak hanya pada pengendalian biaya, tetapi juga ketepatan alokasi aset, membaca dinamika pasar global, pemanfaatan teknologi, serta mitigasi risiko dalam setiap keputusan investasi.
Dampak bagi Fundamental Ekonomi
Dony menambahkan, peningkatan profitabilitas BUMN diharapkan mampu memperkuat fundamental ekonomi nasional. Dampaknya akan terasa melalui kenaikan dividen yang disetor ke negara, pertumbuhan nilai aset, serta kontribusi yang lebih besar bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Melalui tata kelola terintegrasi dan strategi investasi yang disiplin, BP BUMN mendukung Danantara untuk menjaga sekaligus menumbuhkan nilai kekayaan negara secara berkelanjutan.