AMBON — Universitas Pattimura (Unpatti) kini memfokuskan penguatan pemahaman teknologi finansial bagi puluhan ribu mahasiswanya melalui kolaborasi strategis bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku. Inisiatif bertajuk "Digital Financial Literacy" ini digelar di Kota Ambon pada Selasa (5/5) untuk merespons masifnya penggunaan layanan perbankan digital di lingkungan kampus.
Solusi Transaksi Mahasiswa di Wilayah Terpencil Maluku
Rektor Unpatti, Prof Fredy Leiwakabessy, mengungkapkan bahwa literasi keuangan bukan sekadar tambahan wawasan, melainkan kebutuhan mendesak. Saat ini, tercatat ada sekitar 35 ribu mahasiswa Unpatti yang tersebar di berbagai titik di Kepulauan Maluku. Kondisi geografis wilayah ini sering kali menjadi hambatan utama dalam mengakses kantor bank fisik atau layanan keuangan konvensional.
"Pemanfaatan sistem pembayaran digital membuat proses transaksi lebih efisien, cepat, dan tidak terhambat keterbatasan akses perbankan di wilayah terpencil," ujar Prof Fredy Leiwakabessy.
Menurutnya, sistem pembayaran digital memudahkan mahasiswa dalam menyelesaikan kewajiban administratif, termasuk pembayaran biaya pendidikan atau UKT. Dengan teknologi seperti mobile banking dan platform transaksi elektronik, hambatan jarak tidak lagi menjadi persoalan besar bagi mahasiswa yang berada jauh dari pusat kota.
Mitigasi Risiko Penipuan Layanan Keuangan Digital
Meski menawarkan kemudahan, pesatnya perkembangan teknologi finansial membawa ancaman nyata jika tidak dibarengi dengan pemahaman yang matang. Pihak kampus menyoroti potensi penipuan daring yang kerap menyasar pengguna yang kurang waspada. Mahasiswa diminta tidak hanya mahir menggunakan aplikasi, tetapi juga paham mekanisme keamanan produk yang mereka gunakan.
"Layanan keuangan digital seperti mobile banking dan platform transaksi 'online' sudah sangat dekat dengan mahasiswa. Namun jika tidak diimbangi dengan literasi yang baik, hal ini dapat menimbulkan risiko, termasuk potensi penipuan," kata Rektor mengingatkan.
Mahasiswa Maluku Sebagai Agen Literasi Ekonomi Baru
Kepala OJK Provinsi Maluku, Haramain Billady, menilai fenomena aset kripto hingga teknologi blockchain sudah menjadi bagian dari ekosistem finansial global yang tidak terelakkan. Dalam konteks ini, mahasiswa dipandang memiliki posisi strategis untuk menjadi penggerak literasi di tengah masyarakat Maluku.
"Mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus mampu memanfaatkannya secara produktif, termasuk membuka peluang ekonomi baru," tutur Haramain.
Melalui edukasi ini, OJK dan Unpatti menargetkan terciptanya ekosistem kampus yang melek finansial. Mahasiswa diharapkan mampu mengelola keuangan secara bijak sekaligus terlindungi dari jeratan layanan keuangan ilegal yang marak di ruang digital.