Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia dibuka melemah 7,51 poin atau 0,11 persen ke posisi 6.533,87 pada Senin pagi, saat pelaku pasar menahan posisi menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 15-16 September 2026. Indeks LQ45 ikut turun 0,74 poin atau 0,11 persen ke 648,98. Pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga acuan setelah inflasi headline AS bertahan di 3,4 persen pada Agustus 2026.
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Senin pagi, tertekan sikap wait and see pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed pekan ini.
IHSG dibuka turun 7,51 poin atau 0,11 persen ke posisi 6.533,87. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga melemah 0,74 poin atau 0,11 persen ke posisi 648,98.
Level Kritis IHSG: 6.530 Jadi Penentu Arah
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyebut level 6.530 sebagai titik penentu pergerakan IHSG dalam beberapa sesi ke depan.
"Apabila IHSG gagal bertahan di 6.530, koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.425, dengan support berikutnya di 6.377. Sebaliknya, apabila mampu rebound dan kembali menembus level 6.592, IHSG berpeluang menguji 6.723, sebelum menuju 6.859 sebagai resistance berikutnya," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
FOMC 15-16 September 2026 dan Inflasi AS 3,4 Persen
Fokus pelaku pasar global tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 15-16 September 2026. Pasar memperkirakan bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan setelah data inflasi menunjukkan tekanan harga masih tinggi.
Inflasi headline AS mencapai 3,4 persen pada Agustus 2026. Ekspektasi inflasi konsumen AS untuk 12 bulan ke depan naik menjadi 4,6 persen dari sebelumnya 4,0 persen, sementara ekspektasi lima tahun naik tipis ke 3,4 persen dari 3,3 persen.
Data Consumer Sentiment Index University of Michigan juga menurun menjadi 47,8 pada September 2026, dari 51,7 pada Agustus, jauh di bawah ekspektasi 51,0.
"Penurunan utamanya dipicu oleh kenaikan harga bensin dan ketegangan perdagangan yang meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya hidup," ujar Liza.
"Kondisi tersebut membuat investor tetap berhati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed pekan ini," tambahnya.
Risiko Geopolitik Selat Hormuz dan Harga Minyak
Konflik AS dengan Iran masih membayangi keamanan jalur perdagangan energi di Teluk Persia. Sentimen sedikit membaik setelah media Pemerintah Iran melaporkan rencana pertemuan Teheran dengan negara-negara Teluk di Oman untuk membahas isu Selat Hormuz.
"Perkembangan tersebut membantu meredakan tekanan pada harga minyak setelah reli tajam sepanjang pekan," ujar Liza.
Penerimaan Pajak Rp1.409,1 Triliun, 40,2 Persen Target Masih Dikejar
Dari dalam negeri, penerimaan pajak diperkirakan mencapai Rp1.409,1 triliun hingga Agustus 2026, atau 59,8 persen dari target APBN 2026. Angka ini tumbuh 24,1 persen year on year (yoy), namun sekitar 40,2 persen target masih harus dikejar dalam empat bulan terakhir.
Pengamat CITA menilai target tersebut terlalu tinggi karena pemerintah membutuhkan tambahan sekitar Rp440 triliun dibandingkan realisasi 2025. Potensi shortfall penerimaan pajak diperkirakan mencapai Rp80–140 triliun apabila restitusi pajak yang tertahan masih berlanjut.
"Kondisi ini berpotensi menekan arus kas dunia usaha dan menghambat aktivitas ekonomi serta penciptaan lapangan kerja," ujar Liza.
Indeks Ekspektasi Makro Ekonomi Masuk Zona Pesimistis
Ekspektasi pelaku usaha terhadap kondisi makroekonomi kuartal III-2026 memburuk. Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) menurun menjadi 28 dari 37 pada kuartal sebelumnya dan masuk zona pesimistis.
"Pelaku usaha memperkirakan pertumbuhan ekonomi lebih moderat setelah berakhirnya faktor musiman seperti Ramadhan, Idul Fitri dan libur sekolah," ujar Liza.
Tekanan lain datang dari potensi pelemahan kurs rupiah dan kenaikan inflasi akibat tingginya harga energi global, penyesuaian harga BBM nonsubsidi, depresiasi rupiah, serta risiko El Nino terhadap harga pangan.
"Kondisi tersebut meningkatkan potensi kenaikan BI-Rate secara pre-emptive untuk menjaga stabilitas Rupiah dan ekspektasi inflasi, sementara aktivitas manufaktur masuk ke zona kontraksi dengan PMI turun menjadi 49 pada Agustus 2026," ujar Liza.
Bursa Global dan Regional Pagi Ini
Bursa Eropa kompak menguat pada penutupan Jumat (11/09). Euro Stoxx 50 menguat 0,90 persen, FTSE 100 Inggris naik 0,39 persen, DAX Jerman menguat 0,80 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 0,78 persen.
Di Wall Street AS, S&P 500 menguat 0,86 persen ke level 7.656,98, Nasdaq Composite naik 0,96 persen ke 26.333,04, dan Dow Jones Industrial Average menguat 0,98 persen ke 52.573,29.
Sementara bursa regional Asia pagi ini: Nikkei melemah 0,85 persen ke 63.465,00, Shanghai menguat 0,05 persen ke 3.886,25, Kospi melemah 2,21 persen ke 6.757,46, Hang Seng melemah 0,35 persen ke 24.719,00, dan Straits Times menguat 0,29 persen ke 5.522,98.