JAKARTA — IHSG dibuka di level 6.110,28, menguat 18,89 poin atau 0,31 persen dari posisi sebelumnya. Penguatan juga terlihat pada indeks LQ45 yang naik 2,52 poin atau 0,42 persen ke posisi 609,04. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG akan menguji level psikologis 6.000 pada perdagangan hari ini.
Keputusan The Fed dan Sinyal Volatilitas Harga Minyak
Keputusan The Fed melalui Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menahan suku bunga disambut positif oleh pelaku pasar. Namun, di balik keputusan tersebut, terdapat catatan penting: tiga pejabat The Fed tidak setuju dan memilih untuk memperketat kebijakan moneter. Perbedaan pendapat ini menggarisbawahi betapa volatilitas harga minyak telah mempersulit tugas bank sentral dalam mengendalikan inflasi.
“Di tengah berbagai sentimen eksternal dan internal serta faktor teknikal, diperkirakan IHSG akan uji level psikologis di 6.000 pada perdagangan Kamis (30/7),” ujar Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Tekanan dari Bursa AS dan Lonjakan Harga Minyak
Meski ada sentimen positif dari keputusan The Fed, tekanan datang dari bursa saham Amerika Serikat yang justru melemah pada Rabu (29/7). Indeks S&P 500 turun 2,19 persen, Nasdaq Composite melemah 2,06 persen, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 2,19 persen. Pasar obligasi AS juga memberikan sinyal negatif, mengindikasikan bahwa The Fed mungkin tertinggal dalam upaya menekan inflasi.
Ketua The Fed Kevin Warsh menekankan bahwa komite tidak akan ragu untuk bertindak. Namun, pernyataan ini gagal meyakinkan pasar obligasi. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Minyak Brent dan WTI masing-masing ditutup menguat lebih dari 7 persen dan 6 persen, berada di level 90 dolar AS dan 84 dolar AS per barel. Lonjakan ini dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menyerang Iran sebagai balasan atas serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah.
Reformasi Pasar Modal dan Target OJK
Dari dalam negeri, BEI mengumumkan hasil evaluasi indeks IDXBUMN20 yang akan berlaku mulai 5 Agustus 2026 hingga 2 Februari 2027. Dalam evaluasi ini, tidak ada perubahan konstituen, sehingga 20 saham BUMN tetap menjadi penghuni indeks. Namun, BEI melakukan penyesuaian jumlah saham untuk perhitungan indeks dan bobot masing-masing emiten.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) terus memperkuat reformasi pasar modal Indonesia menjelang Tinjauan Indeks MSCI pada November 2026. Langkah ini dilakukan melalui komunikasi intensif dengan penyedia indeks global dan penguatan implementasi agenda reformasi. OJK menargetkan Peraturan OJK (POJK) tentang Demutualisasi Bursa Efek Indonesia terbit pada pekan kedua September 2026.
Kinerja Bursa Regional dan Eropa
Pada perdagangan Rabu (29/7), bursa Eropa bergerak variatif. Euro Stoxx 50 melemah 0,70 persen, sementara FTSE 100 Inggris menguat 0,34 persen. Adapun bursa Asia pagi ini menunjukkan pergerakan campuran. Indeks Nikkei Jepang menguat 2,15 persen, sedangkan indeks Shanghai dan Hang Seng masing-masing melemah 0,07 persen dan 1,65 persen.