MALUKU — Praktik penipuan digital terus berevolusi. Setelah marak SMS dan telepon palsu, kini giliran FaceTime yang dijadikan senjata baru. Pelaku menyamar sebagai petugas bank, mengirimkan notifikasi darurat yang menyebut kartu kredit atau rekening korban bermasalah. Pesan itu menyertakan nomor kontak yang jika dihubungi, akan mengarahkan korban ke panggilan video FaceTime.
Dalam panggilan tersebut, korban diminta berbagi layar (screen sharing) untuk "verifikasi lanjutan". Padahal, aksi ini justru membocorkan password, nomor rekening, dan PIN ke tangan penipu. Modus serupa sudah dikonfirmasi oleh laporan CBS dan diakui langsung oleh jurnalis Matt Gutman yang mengaku sempat menjadi korban.
"Yang dibutuhkan penipu hanyalah persentase kecil orang yang merespons agar skema ini menguntungkan," jelas John Breyault, Vice President Public Policy, Telecom and Fraud di National Consumers League, kepada CNET. Ia menambahkan bahwa panggilan video kini makin meyakinkan berkat teknologi deepfake AI yang bisa meniru suara dan wajah.
Mengapa FaceTime Jadi Sasaran Empuk?
Video call menciptakan ilusi kepercayaan. Korban merasa "berhadapan langsung" dengan petugas resmi, sehingga lebih mudah dimanipulasi. Justin Brookman, Director of Technology Policy di Consumer Reports, menjelaskan: "Penipu menciptakan rasa urgensi palsu agar Anda bertindak cepat tanpa berpikir panjang, seolah bencana akan terjadi jika menunda."
Di era AI, serangan ini makin personal. Data pribadi yang berserakan di internet digabungkan dengan alat deepfake untuk membuat panggilan tampak autentik. "Kombinasi informasi yang tersedia dan AI memungkinkan serangan diskalakan secara realistis," tambah Brookman.
Tanda Bahaya yang Wajib Diwaspadai
Ada beberapa red flag yang bisa dikenali agar tidak terjebak:
- Bank tidak akan menelepon via FaceTime: Lembaga resmi tidak pernah meminta verifikasi melalui panggilan video. Jika menerima permintaan semacam itu, abaikan.
- Jangan klik tautan atau hubungi nomor asing: Penipu menyisipkan link atau nomor palsu dalam pesan. "Cari sendiri nomor layanan pelanggan resmi bank Anda," saran Brookman.
- Waspada tekanan waktu: Kalimat seperti "akun Anda akan diblokir dalam 1 jam" adalah taktik klasik untuk membuat panik.
Langkah Darurat Jika Sudah Terjebak
Jika Anda sudah terlanjur memberikan data, jangan panik. Ada beberapa langkah yang bisa diambil segera:
- Hubungi bank secepatnya: "Penipu biasanya langsung menguras rekening. Semakin cepat dilaporkan, semakin besar peluang dana bisa diselamatkan," ujar Breyault.
- Manfaatkan fitur keamanan iPhone: Atur FaceTime hanya menerima panggilan dari kontak tersimpan. Panggilan dari nomor tak dikenal otomatis masuk ke riwayat tanpa berdering.
- Laporkan spam ke Apple: Tekan lama nama pemanggil di riwayat FaceTime, pilih "Laporkan Spam". Data akan dikirim langsung ke Apple untuk ditindaklanjuti.
- Perbarui sistem operasi: Pastikan iOS atau Android selalu versi terbaru. "Ini mengurangi risiko eksploitasi celah keamanan oleh penipu," kata Breyault.
Penipuan digital bukan sekadar ancaman global. Di Indonesia, modus serupa sudah sering dilaporkan via media sosial dan forum. Prinsipnya tetap sama: jangan pernah membagikan data perbankan melalui panggilan telepon atau video, siapa pun pengirimnya. Jika ragu, tutup panggilan dan hubungi bank langsung lewat nomor resmi di kartu ATM atau aplikasi.