MALUKU — Studi dari beberapa lembaga riset otomotif di Amerika Serikat menunjukkan pola yang konsisten: harga jual kembali Tesla Model Y turun drastis. Data CarEdge mencatat angka paling ekstrem, yakni penyusutan hingga 61 persen dalam lima tahun. Sementara itu, analisis iSeeCars menyebutkan depresiasi mencapai 58,1 persen, dan Kelley Blue Book (KBB) mencatat angka 46 persen untuk model tahun 2021 di berbagai varian.
Mengapa Nilai Jual Tesla Model Y Anjlok?
Fenomena ini bukan semata-mata karena merek atau model tertentu. Secara umum, mobil listrik mengalami depresiasi lebih cepat dibanding kendaraan berbahan bakar bensin. Perkembangan teknologi baterai yang sangat cepat menjadi biang kerok utama.
Ketika pabrikan meluncurkan baterai lebih efisien, jarak tempuh lebih jauh, atau fitur baru dalam waktu singkat, model lama langsung kehilangan daya tarik di pasar bekas. Harga jual pun ikut terkoreksi. Khusus untuk Tesla Model Y, ada faktor tambahan yang memperparah kondisi ini.
Kebijakan Harga Agresif Tesla Ikut Menekan
Tesla beberapa kali melakukan penyesuaian harga jual mobil baru secara agresif sejak Model Y diluncurkan pada 2020. Kebijakan ini langsung berdampak pada nilai unit bekas. Ketika harga mobil baru dipangkas, harga mobil bekas otomatis ikut turun untuk tetap kompetitif.
Akibatnya, pemilik Tesla Model Y yang ingin menjual kendaraannya harus menerima kenyataan pahit: lebih dari setengah nilai investasi mereka lenyap dalam lima tahun. Rata-rata dari seluruh sumber data menunjukkan angka depresiasi 55 persen.
Perbandingan dengan Mobil Konvensional dan Kompetitor Listrik
Angka 55 persen itu memang masih lebih baik dibanding beberapa mobil listrik lain yang depresiasinya lebih parah. Namun, tetap jauh di atas rata-rata kendaraan bermesin konvensional. Mobil bensin umumnya mempertahankan nilai jual lebih baik karena teknologi penggeraknya sudah matang dan tidak berubah drastis setiap tahun.
Bagi konsumen Indonesia yang mulai melirik mobil listrik, data ini menjadi pengingat penting. Biaya operasional yang lebih rendah belum tentu mengimbangi potensi kerugian dari depresiasi. Apalagi jika dalam waktu dekat pabrikan kembali memangkas harga jual unit baru.