JAKARTA — Pergerakan IHSG pada akhir pekan ini disebut akan dipengaruhi oleh dua kekuatan besar dari dalam dan luar negeri. Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, meminta para investor untuk memonitor lekat-lekat level support terdekat di angka 6.055.
“Monitor lekat-lekat level support terdekat (6.055), sekaligus memantau potensi break out yang bisa mendobrak neckline 6.300 demi menciptakan pola bullish reversal inverted head and shoulders,” ujar Liza.
MSCI Pangkas Peringkat, Investor Asing Makin Hati-hati
Dari dalam negeri, MSCI untuk pertama kalinya secara eksplisit menurunkan skor Information Flow Indonesia dari "+" menjadi "-". Penurunan ini dikaitkan dengan isu transparansi kepemilikan saham, free float, serta coordinated trading behavior yang dinilai mengganggu price discovery.
Laporan MSCI itu disebut sebagai sinyal peringatan. Apabila tata kelola pasar dan transparansi free float tidak membaik, diskon valuasi Indonesia berpotensi bertahan lebih lama. Hal ini menjadi salah satu alasan dana asing masih enggan kembali masuk secara agresif ke bursa Tanah Air.
Investor kini menanti pengumuman selanjutnya, yaitu MSCI Annual Market Classification Review pada Rabu (24/6) pekan depan. Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5,75 persen, menandai kenaikan ketiga dalam sebulan untuk menjaga stabilitas Rupiah di tengah gejolak global.
Damai AS-Iran vs Sinyal The Fed: Dua Kekuatan Berlawanan
Dari mancanegara, sentimen pasar ditentukan oleh dua kekuatan yang saling berlawanan. Di satu sisi, kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang ditandatangani di Versailles, Prancis, mendukung risk appetite. Kesepakatan ini menurunkan harga energi dan mengurangi risiko gangguan pasokan global.
Di sisi lain, kepemimpinan baru Kevin Warsh di The Fed memperkuat narasi higher-for-longer. Dot plot terbaru menunjukkan peluang kenaikan suku bunga tambahan tahun ini. Warsh juga mengumumkan pembentukan sejumlah task force untuk mengevaluasi komunikasi The Fed, neraca bank sentral, dan penggunaan data ekonomi.
Citi menilai kombinasi dot plot yang lebih hawkish, berkurangnya tekanan politik dari Donald Trump terhadap The Fed, dan belum adanya implikasi kebijakan AI dalam waktu dekat menjadi faktor utama penguatan Dollar AS.
Bursa Global Variatif, Asia Mixed di Pagi Hari
Pada perdagangan Kamis (18/6), bursa saham Eropa bergerak variatif. Euro Stoxx 50 menguat 0,29 persen, FTSE 100 Inggris melemah 1,14 persen, DAX Jerman menguat 0,37 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 0,44 persen. Sementara itu, bursa AS Wall Street kompak menguat. Dow Jones naik 0,14 persen, S&P 500 menguat 1,08 persen, dan Nasdaq Composite melesat 2,48 persen.
Di Asia pagi ini, indeks Nikkei menguat 0,20 persen ke 71.197,00, dan Strait Times menguat 0,35 persen ke 5.194,45. Sementara itu, indeks Shanghai (China) dan Hang Seng (Hong Kong) libur dalam rangka memperingati Festival Perahu Naga.
“Ke depan, fokus investor akan tertuju pada implementasi kesepakatan damai AS dengan Iran, negosiasi nuklir di Swiss, stabilitas arus pelayaran Selat Hormuz, serta sinyal lanjutan arah kebijakan moneter Eurozone dari para pejabat European Central Bank (ECB),” pungkas Liza.