Dikembangkan oleh studio Curve dan sudah tersedia dalam bentuk demo di Steam, Wax Heads bukan sekadar puzzle tebak-tebakan album berdasarkan sampul bergambar saksofon. Gim ini mengambil latar Repeater Records, sebuah toko musik lokal yang berjuang untuk tetap hidup di tengah gempuran era digital. Tapi justru di situlah letak daya tariknya.
Bukan Sekadar Menebak Cover Album
Mekanisme utama Wax Heads adalah membantu pelanggan yang seringkali tidak ingat apa yang mereka cari. Ada yang hanya bilang "sampulnya warna merah", ada pula yang justru minta rekomendasi berdasarkan selera musik mereka. Untuk memecahkan teka-teki ini, pemain harus menjelajahi toko yang penuh lorong, membaca koran musik harian, dan memerhatikan media sosial palsu bernama Phonogram.
Bahkan pakaian yang dikenakan pelanggan bisa menjadi petunjuk penting tentang preferensi musik mereka. Pendekatan ini membuat Wax Heads terasa seperti Strange Horticulture versi punk—bukan meracik tanaman, melainkan meracik rekomendasi album.
Karakter dan Mitologi Musik yang Hidup
Yang membuat Wax Heads menonjol adalah perhatiannya pada karakter. Semua pegawai toko yang eksentrik memiliki latar belakang dan cerita masing-masing. Begitu pula para pelanggan tetapnya. Pengembang juga menulis blurb album fiktif dengan observasi yang tajam—termasuk kisah saga band metal yang diduga membunuh vokalis pertamanya, mitologi yang terasa autentik seperti obrolan di toko vinyl sungguhan.
Pemain bahkan bisa memutar lagu di jukebox, dan setiap lagu adalah rekreasi sempurna dari subgenre musik tertentu. Saking bagusnya, banyak pemain yang berharap band-band fiktif ini benar-benar ada di dunia nyata.
Nada yang Tepat Antara Empire Records dan High Fidelity
Dari segi tone, Wax Heads berada di tengah-tengah film Empire Records dan High Fidelity, dengan sentuhan gaya seni ala Scott Pilgrim. Ini adalah game tentang komunitas, tentang toko musik yang menjadi pusat pertemuan anak-anak lokal, dan tentang bagaimana menggelar konset bisa menjadi penyelamat bisnis yang nyaris gulung tikar.
Bagi yang bosan dengan game simulasi toko yang hanya berputar pada efisiensi rak dan manajemen stok, Wax Heads menawarkan sesuatu yang lebih manusiawi. Game ini mengingatkan bahwa di balik setiap album, ada cerita yang menunggu untuk ditemukan.