AMBON — Suasana Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, berubah menjadi lautan manusia dan gema takbir saat Idul Adha tiba. Bukan sekadar penyembelihan hewan kurban, warga setempat menggelar Lawa Pipi — tradisi mengarak kambing sambil berlari kecil yang sudah berlangsung turun-temurun.
Ribuan warga dari berbagai daerah memadati jalan-jalan kampung sejak pagi. Mereka menyaksikan prosesi yang memadukan nilai keagamaan, budaya, dan kebersamaan masyarakat adat di pesisir Jazirah Leihitu itu.
Bukan Sekadar Arak-arakan, Ini Simbol Rukun Haji
Rangkaian Lawa Pipi diawali dengan tahlilan di beranda Rumah Tua Ollong. Tokoh agama, tokoh adat, kasisi masjid, serta masyarakat berkumpul memanjatkan doa bagi para leluhur dan ungkapan syukur. Setelah itu, seekor kambing pilihan berukuran besar dan paling sehat — disebut Kambing Temal — dikeluarkan. Hewan ini dimaknai sebagai simbol pengganti Nabi Ismail AS dalam kisah kurban.
Para pemuda kemudian mengangkat Kambing Temal ke pundak mereka. Dengan langkah cepat menyerupai lari kecil, mereka mengarak kambing tersebut mengelilingi kampung. Prosesi ini melambangkan Sa’i, salah satu rukun haji yang dilakukan jamaah di Tanah Suci.
Thawaf Tujuh Putaran di Halaman Masjid Tua
Setelah mengelilingi kampung, rombongan bergerak menuju Masjid Hasan Soleman Hila. Di halaman masjid tua tersebut, Kambing Temal kembali diarak mengelilingi bangunan sebanyak tujuh kali putaran. Ini merupakan simbol thawaf mengelilingi Ka'bah.
Pada putaran terakhir, imam bersama penghulu masjid menyembelih Kambing Temal di lokasi yang telah disediakan di belakang masjid. Saat penyembelihan berlangsung, warga melemparkan uang logam dan uang kertas ke arah kambing. Ritual ini dimaknai sebagai simbol lempar jumrah sekaligus doa untuk keselamatan dan penolak bala.
Uang Lempar Jumrah Dibeli Rempah, Daging Kurban untuk Warga
Salah satu pengurus Masjid Hasan Soleman Hila, Abubakar Tatisina, mengatakan seluruh rangkaian Lawa Pipi pada dasarnya merupakan representasi dari rukun-rukun haji yang dilakukan di Mekkah. “Leluhur kita melihat setiap rukun haji yang dikerjakan di Mekkah, lalu dibuat dalam bentuk miniatur di tradisi Lawa Pipi ini,” katanya.
Menurut Abubakar, tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari perayaan Idul Adha, tetapi juga sarana menanamkan nilai-nilai spiritual kepada generasi muda sekaligus mempererat hubungan sosial masyarakat. “Lewat Lawa Pipi ini, generasi muda diajarkan mengenal rukun ibadah haji yang dilakukan di Tanah Suci,” ujarnya.
Uang yang terkumpul dari lemparan warga kemudian digunakan untuk membeli rempah-rempah dan kebutuhan memasak daging kurban. Daging tersebut selanjutnya dibagikan kepada warga kurang mampu. Pada Idul Adha tahun ini, masyarakat Hila menyembelih 35 ekor kambing dan sembilan ekor sapi kurban.
Festival Budaya: Hadrat, Samra, hingga Lomba Pidato Bahasa Daerah
Ketua Panitia Festival Budaya Lawa Pipi, Kasim Assawala, menilai keterlibatan generasi muda dalam setiap prosesi menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih hidup dan terus dicintai masyarakat. “Lawa Pipi bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang harus dijaga,” katanya.
Selain prosesi adat dan penyembelihan hewan kurban, Festival Budaya Lawa Pipi juga diramaikan berbagai atraksi seni tradisional, seperti hadrat, samra, hingga lomba pidato bahasa daerah. Tradisi ini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di Maluku yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.