AMBON — Kepala Kanwil DJPb Provinsi Maluku Anang Rohmawan menyebut capaian itu menunjukkan peran APBN dalam memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat kecil. "Capaian ini menunjukkan peran APBN dalam memperluas akses pembiayaan produktif bagi masyarakat dan pelaku usaha skala kecil di Maluku," ujarnya di Ambon, Selasa (26/5).
Pembiayaan Ultra Mikro Ikut Melesat 56,42 Persen
Tidak hanya KUR, skema pembiayaan Ultra Mikro (UMi) di Maluku juga mencatat pertumbuhan signifikan. Realisasinya mencapai Rp13,56 miliar dengan jumlah debitur sebanyak 2.271 orang. Angka ini meningkat 56,42 persen secara tahunan, menandakan semakin terbukanya akses permodalan bagi pelaku usaha di lapisan paling bawah.
Anang menjelaskan bahwa KUR dan UMi merupakan instrumen APBN yang diarahkan untuk memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kedua program ini menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah yang pada kuartal I 2026 tercatat tumbuh 5,16 persen secara tahunan.
Sektor Apa yang Menopang Ekonomi Maluku?
Pertumbuhan ekonomi Maluku ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan sejumlah sektor unggulan. Beberapa lapangan usaha yang menjadi penopang utama antara lain pertanian, kehutanan, perikanan, penyediaan akomodasi dan makan minum, informasi dan komunikasi, jasa keuangan, serta real estat.
Di sektor perdagangan luar negeri, kinerja ekspor Maluku hingga April 2026 mencapai 18,77 juta dolar AS. Ekspor didominasi komoditas nonmigas, terutama produk perikanan. Anang menyebut pertumbuhan ekspor itu didorong meningkatnya volume ekspor produk perikanan, termasuk fasilitasi ekspor langsung dari Tual ke Hong Kong pada akhir April 2026.
"Hal ini menjadi momentum penting dalam memperkuat hilirisasi, konektivitas perdagangan, dan daya saing produk unggulan Maluku," ujar Anang.
Apa Langkah Selanjutnya untuk UMKM Maluku?
Dengan realisasi yang terus tumbuh, DJPb Maluku optimistis penyaluran KUR dan UMi akan terus meningkat hingga akhir tahun. Pemerintah daerah pun didorong untuk memperkuat sinergi dengan perbankan dan lembaga keuangan non-bank agar akses pembiayaan produktif semakin merata hingga ke pelosok kepulauan.
Anang menambahkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari angka penyaluran, tetapi juga dari dampaknya terhadap peningkatan kapasitas usaha dan kesejahteraan debitur. "Kami ingin UMKM di Maluku naik kelas," pungkasnya.