Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 40 Ambon memetakan bakat dan minat setiap siswa untuk mengarahkan pembinaan akademik maupun nonakademik secara lebih spesifik. Pemetaan itu menghasilkan daftar 10 siswa top talent yang menjadi sasaran pembinaan lanjutan. Dalam setahun terakhir, sejumlah siswa sudah menembus kompetisi tingkat kota, provinsi, hingga nasional.
AMBON — Kepala SRMA 40 Ambon Afia Jorits menyatakan pemetaan potensi dilakukan untuk mengetahui bidang yang lebih menonjol dari tiap siswa. Dengan begitu, pembinaan bisa diarahkan sesuai kemampuan masing-masing, bukan diseragamkan.
"Yang lebih unggul, misalnya top talent-nya berapa, 10 top talent-nya apa. Itu menjadi sasaran dan kami sudah punya gambaran bahwa ke depan anak-anak ini akan kami giring ke mana," kata Afia di Ambon, Kamis.
Pemetaan Bakat Tentukan Arah Pembinaan Siswa
Afia menjelaskan pemetaan tersebut telah memberi gambaran soal bidang yang lebih kuat pada setiap siswa. Pengelompokannya mencakup rumpun matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA), ilmu pengetahuan sosial (IPS), serta bahasa.
Pendekatan itu membuat sekolah lebih mudah mengarahkan siswa mengembangkan kemampuan secara lebih tajam. Afia menyebut arah pembinaan mengikuti bakat yang dimiliki, bukan sekadar target kurikulum.
"Kalau di MIPA ya IPA, kalau di IPS ya IPS, kalau bahasa ya bahasa. Anak-anak kita ini sudah mengikuti kompetisi-kompetisi tingkat kota maupun tingkat provinsi, bahkan sampai tingkat nasional," ujarnya.
Siswa SRMA 40 Ambon Tembus Kejurnas Karate
Dalam satu tahun terakhir, sejumlah siswa SRMA 40 Ambon menorehkan prestasi dari pembinaan yang disesuaikan dengan potensi mereka. Di bidang olahraga, salah seorang siswa mewakili sekolah pada kejuaraan karate tingkat nasional untuk kelompok usia.
Meski belum meraih juara, keikutsertaan itu dinilai menjadi pengalaman penting bagi siswa. Capaian tersebut menambah kemampuan dan kepercayaan dirinya.
"Untuk tingkat nasional, anak kita pernah mengikuti Kejurnas Karate. Dia sudah pergi satu kali, tetapi belum meraih juara. Namun, dia sudah sampai ke tingkat nasional," kata Afia.
Sabun Ekstrak Biji Pala Raih Juara III di Kompetisi Sains
Di bidang akademik, siswa SRMA 40 Ambon menjadi finalis Olimpiade Sains yang diselenggarakan Universitas Pattimura pada tingkat provinsi. Prestasi lain datang dari kompetisi sains Sekolah Laboratorium Universitas Pattimura.
Dalam kompetisi itu, siswa SRMA 40 Ambon mengembangkan produk sabun berbahan ekstrak biji pala sebagai upaya mengangkat potensi lokal. Produk tersebut meraih juara III.
Sejumlah siswa juga mengikuti olimpiade tingkat nasional yang digelar sejumlah perguruan tinggi. Dari ajang itu, mereka berhasil meraih medali, termasuk perunggu dan perak.
Kompetisi Jadi Pemicu Pembentukan Karakter
Afia menilai capaian tersebut menjadi pemicu bagi siswa untuk terus mengembangkan kemampuan sekaligus membangun karakter. Pengalaman berkompetisi dinilai sama pentingnya dengan hasil akhir.
"Ini menjadi sebuah pemicu bagi anak-anak untuk terus berkembang. Mereka bukan hanya diarahkan untuk berprestasi, tetapi juga belajar percaya diri, disiplin, bekerja keras, dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka kerjakan," katanya.
Pemetaan bakat dan minat akan terus digunakan sebagai dasar pembinaan. Tujuannya agar setiap siswa memperoleh ruang berkembang sesuai potensinya masing-masing.
Dengan pendekatan itu, SRMA 40 Ambon tidak hanya berorientasi pada capaian akademik. Sekolah juga berupaya membentuk siswa yang memiliki karakter, kepercayaan diri, serta kemampuan mengembangkan potensi yang dimiliki.