Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 36 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.730 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu, dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.694 per dolar AS. Pelemahan terjadi saat pelaku pasar menanti keputusan suku bunga Federal Reserve yang diperkirakan naik 25 basis poin menjadi 4 persen. Tekanan eksternal ini juga dibayangi harga minyak yang masih bertahan di level 105 dolar AS per barel.
JAKARTA — Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyebut pelemahan rupiah dipicu antisipasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan yang berlangsung Rabu waktu Amerika Serikat. Survei pelaku pasar menunjukkan 100 persen memperkirakan kenaikan 25 basis poin, sehingga suku bunga acuan akan menyentuh level 4 persen.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh global, (yakni) antisipasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan hari ini waktu AS dimana 100 persen survei pelaku pasar memperkirakan 25 bps (basis points) kenaikan menjadi 4 persen didorong oleh harga minyak yg masih di level 105 dolar AS per barel,” ucap Rully kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
FOMC Gelar Pertemuan, Pasar Yakin Suku Bunga Naik
Federal Open Market Committee (FOMC) memulai pertemuan kebijakan bulan September pada Selasa (15/9), mengutip Kantor Berita China Xinhua. Sentimen pasar sangat dipengaruhi agenda tersebut.
Setelah data inflasi tinggi selama berbulan-bulan, pelaku pasar meyakini bank sentral akan menaikkan suku bunga saat pertemuan berakhir Rabu (16/9). Kenaikan itu menjadi respons terhadap tekanan harga yang belum mereda.
Tekanan Domestik: Inflasi hingga Ruang Fiskal Menyempit
Dari sisi domestik, hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pekan depan menghadapi tekanan eksternal. Sikap The Fed yang hawkish, tren kenaikan inflasi, dan ruang fiskal pemerintah yang semakin menyempit menjadi faktor yang membatasi transmisi selisih harga minyak.
Asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) berada di kisaran 70 dolar AS per barel, sementara harga di pasar masih bertahan 105 dolar AS per barel. Selisih itu memberi tekanan tambahan pada ruang fiskal pemerintah.
Prediksi Pergerakan Rupiah Hari Ini
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp17.690 hingga Rp17.750 per dolar AS. Rentang itu mencerminkan ketidakpastian pasar menjelang keputusan FOMC dan RDG BI pekan depan.
Pergerakan nilai tukar hari ini menjadi acuan awal bagi pelaku usaha dan importir di daerah dalam menyusun rencana transaksi. Pelemahan 36 poin membawa rupiah ke posisi Rp17.730 per dolar AS, level yang lebih lemah dibanding penutupan sebelumnya.