Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.774 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi langsung berpotensi menekan harga kebutuhan pokok di Maluku, terutama komoditas impor seperti beras premium dan tepung terigu. Eskalasi konflik AS-Iran yang memicu kenaikan harga minyak dunia menjadi pemicu utama, sekaligus mengancam ongkos distribusi logistik antarpulau yang menjadi denyut nadi perekonomian warga di kepulauan Maluku.
AMBON — Tekanan nilai tukar rupiah yang kembali melemah 30 poin ke posisi Rp17.774 per dolar AS pada pembukaan pasar Rabu pagi membuat pelaku usaha dan nelayan di Ambon mulai menghitung ulang biaya operasional. Pelemahan ini terjadi di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang mendongkrak harga minyak mentah global, sehingga biaya bahan bakar untuk kapal dan transportasi darat dipastikan ikut terbebani.
Kondisi ini menjadi sinyal buruk bagi harga pangan di Maluku yang sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah. Komoditas seperti beras, gula, dan minyak goreng yang didatangkan dari Surabaya atau Makassar menggunakan kapal kargo akan mengalami kenaikan biaya angkut sebelum akhirnya tiba di pasar-pasar tradisional seperti Pasar Mardika dan Pasar Batu Merah.
Mengapa Konflik AS-Iran Berdampak ke Kantong Warga Maluku?
Jalur distribusi barang di Maluku nyaris seluruhnya bergantung pada transportasi laut yang konsumsi bahan bakarnya tinggi. Ketika harga minyak dunia merangkak naik akibat serangan AS di wilayah Iran, biaya solar untuk kapal-kapal pengangkut logistik otomatis ikut naik.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.750 - Rp17.820 dipengaruhi oleh global masih berlanjutnya kenaikan harga minyak seiring meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” kata analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, kepada ANTARA di Jakarta.
Kantor Berita Rusia, Sputnik, melaporkan bahwa AS melakukan penyerangan terhadap acara pernikahan di Iran yang mengakibatkan korban jiwa empat orang. Jika diakumulasi, total serangan AS di berbagai wilayah Iran menyebabkan 50 orang mengalami luka-luka.
Inflasi dan Surplus Perdagangan yang Menyempit Ikut Menekan Rupiah
Selain faktor konflik geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari fundamental ekonomi domestik. Pasar mulai mengantisipasi sikap bank sentral AS yang lebih agresif setelah data inflasi Negeri Paman Sam menunjukkan tren kenaikan.
“Ekspektasi pelaku pasar terkait kenaikan suku bunga oleh The Fed per September meningkat menjadi 66 persen dari sebelumnya hanya 35 persen. Kenaikan bunga diperkirakan 25 bps menjadi 4 persen,” ucap Rully.
Kenaikan suku bunga acuan AS biasanya memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, yang akhirnya semakin menekan nilai tukar rupiah. Di sisi domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus senilai 3,70 miliar dolar AS pada periode Januari-Juli 2026.
Apa Dampaknya untuk Harga Kebutuhan Pokok di Ambon?
Meski surplus neraca perdagangan masih terjadi, trennya yang semakin kecil membuat permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor tetap tinggi. Sementara itu, inflasi yang tercatat sebesar 0,21 persen secara bulanan pada Agustus 2026 dinilai masih cukup tinggi untuk ukuran daya beli masyarakat kepulauan.
Bagi pedagang di Ambon, kombinasi antara rupiah lemah dan harga solar tinggi berarti biaya kirim barang dari pelabuhan besar di Jawa akan semakin mahal. Para pengusaha transportasi laut biasanya langsung menyesuaikan tarif ketika harga bahan bakar naik, dan beban itu pada akhirnya dibebankan ke harga jual di tingkat pengecer.
Masyarakat di pulau-pulau kecil seperti Saparua, Haruku, atau Nusalaut yang biasa berbelanja kebutuhan harian ke Ambon akan merasakan dampaknya lebih lambat namun lebih berat, mengingat biaya transportasi antarpulau yang harus ditanggung berlapis.