Pencarian

Ekspor ke China Tembus US$ 40,62 Miliar, Nikel dan Baja Jadi Penopang Utama

Selasa, 01 September 2026 • 16:05:31 WIB
Ekspor ke China Tembus US$ 40,62 Miliar, Nikel dan Baja Jadi Penopang Utama
Ekspor nonmigas Indonesia ke China tercatat mencapai US$ 40,62 miliar pada Januari-Juli 2026, dengan besi, baja, dan nikel sebagai komoditas penopang utama.

MALUKU — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekspor nonmigas ke China terjadi di tengah melambatnya permintaan global. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut kenaikan ini ditopang penguatan harga dan volume sejumlah komoditas andalan.

Besi dan Baja Tetap Juara, Nikel Tunjukkan Laju Tercepat

Besi dan baja masih menjadi primadona dengan nilai ekspor US$ 10,63 juta, menyumbang 26,18 persen dari total pengiriman ke China. Angka ini tumbuh 2,16 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan paling agresif justru datang dari nikel. Ekspor komoditas ini melonjak 59 persen menjadi US$ 6,19 juta, dengan kontribusi 15,26 persen terhadap total ekspor nonmigas ke negeri tirai bambu.

Sementara itu, bahan bakar mineral juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 18,09 persen. Nilainya mencapai US$ 5,85 juta atau setara 14,41 persen dari total—mengukuhkan posisinya sebagai komoditas ketiga terbesar.

China, AS, India: Tiga Tujuan Utama yang Kuasai 44 Persen Ekspor

Secara keseluruhan, tiga negara ini menyerap sekitar 44,25 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada periode Januari-Juli 2026. Posisi China di puncak tidak tergoyahkan, diikuti Amerika Serikat dengan nilai US$ 19,19 miliar.

Ekspor ke AS didominasi mesin dan perlengkapan elektrik (HS85) dengan kontribusi 15,61 persen. Namun, kinerja ke negara tersebut justru terkoreksi 9,27 persen dibanding tahun lalu—menjadi catatan yang perlu diwaspadai di tengah ketidakpastian tarif dagang.

India menempati posisi ketiga dengan nilai ekspor US$ 11 miliar. Berbeda dengan China yang didominasi produk hilir, pengiriman ke India masih bertumpu pada bahan bakar mineral (HS27) yang menyumbang 32,30 persen.

Hilirisasi Mulai Terlihat di Pasar China

Komposisi ekspor ke China menunjukkan pergeseran struktur. Jika sebelumnya didominasi bahan mentah, kini produk setengah jadi seperti feronikel dan baja olahan mengambil porsi lebih besar. Hal ini sejalan dengan kebijakan hilirisasi yang digenjot pemerintah sejak beberapa tahun terakhir.

Kendati pertumbuhan impresif, Indonesia tetap perlu memperluas pasar non-tradisional. Ketergantungan tinggi pada satu negara berisiko ketika kebijakan impor China berubah—seperti yang pernah terjadi pada komoditas batu bara dan CPO di masa lalu.

Dengan tren saat ini, target ekspor nonmigas 2026 berpeluang melampaui capaian tahun sebelumnya, asalkan permintaan China tetap solid hingga akhir tahun dan gangguan logistik tidak memburuk.

Follow kabartual.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks