MALUKU — Kenaikan laba itu sejalan dengan pertumbuhan EBITDA yang mencapai Rp9,62 triliun, atau naik 35 persen dari Rp7,11 triliun pada semester I-2025. Dari sisi operasional, penjualan emas Antam menembus Rp50,39 triliun, menjadikan komoditas logam mulia sebagai kontributor utama pendapatan perseroan.
Direktur Utama Antam Untung Budiharto mengatakan, perusahaan mampu mempertahankan kinerja keuangan yang positif di tengah dinamika harga komoditas global. "Perusahaan mampu mempertahankan kinerja keuangan yang positif, didukung oleh penguatan kinerja operasional serta penerapan disiplin pengelolaan modal kerja, arus kas, dan likuiditas secara konsisten," ujarnya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (29/8/2026).
Laba Kotor dan Laba Usaha Naik Dua Digit
Laba kotor Antam tercatat naik 32 persen menjadi Rp10,85 triliun, sementara laba usaha tumbuh lebih tinggi lagi, yakni 38 persen, menjadi Rp8,44 triliun. Marjin profitabilitas yang membaik ini mengindikasikan efisiensi biaya produksi dan strategi pemasaran yang efektif di tengah tingginya permintaan emas batangan domestik.
Pertumbuhan laba usaha yang lebih tinggi dibandingkan laba kotor menunjukkan beban operasional perseroan terkelola dengan baik. Ini menjadi sinyal positif bagi investor yang mencermati efisiensi fundamental ANTM.
Apa Artinya bagi Pemegang Saham ANTM?
Bagi investor, torehan laba semester I-2026 ini memperkuat posisi kas Antam untuk mendanai proyek ekspansi maupun potensi pembagian dividen. Dengan harga emas yang masih berada di level tinggi sepanjang tahun ini, emiten berkode saham ANTM itu dipandang masih memiliki ruang pertumbuhan kinerja hingga akhir tahun.
Namun demikian, investor tetap perlu mencermati pergerakan harga emas dunia dan kebijakan moneter global yang dapat memengaruhi permintaan logam mulia. Investasi mengandung risiko.
Kinerja solid ini sekaligus menegaskan posisi Antam sebagai salah satu pemain utama industri pertambangan logam mulia di Indonesia, dengan rantai bisnis terintegrasi dari hulu pertambangan hingga hilirisasi produk emas ritel.