3 Anggapan Keliru soal Pernikahan yang Bisa Bikin Pasangan Terjebak dalam Ketidakbahagiaan

Penulis: Fajar  •  Minggu, 13 September 2026 | 07:01:31 WIB
Ilustrasi pasangan suami istri menjalani kehidupan rumah tangga.

AMBON — Pernikahan sering dibayangkan sebagai akhir perjalanan cinta: dua orang bertemu, saling mencintai, menikah, lalu hidup bahagia selamanya. Namun, kehidupan rumah tangga tidak pernah sesederhana cerita dalam dongeng.

Di balik janji hidup bersama, ada pekerjaan panjang yang harus dilakukan dua orang agar hubungan tetap sehat. Perbedaan karakter, persoalan sehari-hari, perubahan perasaan, hingga tuntutan hidup bisa menguji hubungan yang sebelumnya terlihat sempurna.

Masalahnya, banyak pasangan masuk ke pernikahan dengan ekspektasi keliru. Narasi romantis dari film, iklan, media sosial, sampai kisah cinta dalam dongeng kerap membentuk gambaran bahwa pasangan akan selalu memahami, membahagiakan, dan melengkapi hidup kita.

Anggapan Keliru yang Paling Mendasar

Konselor dan psikoterapis Carol Freund menilai sejumlah ilusi semacam itu dapat menjadi jebakan dalam kehidupan rumah tangga. Salah satu yang paling mendasar adalah anggapan bahwa pernikahan itu mudah.

Menurut Freund, pernikahan memang bisa memberi kebahagiaan dan menjadi hubungan yang sangat berharga. Tetapi bukan berarti semuanya akan berjalan tanpa usaha.

"Pernikahan adalah, pada kenyataannya, sebuah pekerjaan — pekerjaan yang layak, tentu saja, tetapi tetaplah pekerjaan," pandang Freund mengenai kehidupan rumah tangga.

Mengapa Ekspektasi Keliru Berbahaya

Gambaran bahwa pasangan akan selalu memahami dan melengkapi hidup kita membuat banyak orang tidak siap menghadapi kenyataan. Ketika persoalan muncul, mereka menganggapnya sebagai tanda hubungan gagal, bukan bagian dari proses yang wajar.

Perbedaan karakter dan perubahan perasaan adalah hal yang normal terjadi. Tanpa kesadaran bahwa pernikahan butuh usaha, pasangan mudah terjebak dalam ketidakbahagiaan.

Yang Perlu Dipahami Sebelum Menikah

Freund menegaskan bahwa pernikahan bisa menjadi hubungan yang berharga. Namun, kebahagiaan itu datang bukan karena semuanya berjalan mulus, melainkan karena kedua pihak bersedia mengerjakan hubungan tersebut.

Memahami bahwa pernikahan adalah pekerjaan yang layak dijalani bisa membantu pasangan menghadapi persoalan dengan lebih realistis. Bukan sebagai dongeng, melainkan sebagai komitmen yang dirawat setiap hari.

Reporter: Fajar
Sumber: porostimur.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top