MALUKU — State Administration for Market Regulation (SAMR) mengumumkan penarikan terbesar yang pernah terjadi di China. Total 4,3 juta unit kendaraan listrik ditarik karena komponen gagang pelepas pintu darurat mekanis dinilai berpotensi gagal berfungsi optimal setelah kecelakaan. Langkah ini menjadi sinyal keras bagi industri otomotif global tentang standar keselamatan yang semakin ketat di pasar China.
Tesla menjadi penyumbang terbesar dengan 2,98 juta unit yang mencakup Model 3, Model Y, Model S, dan Model X—baik unit impor maupun rakitan lokal. Jumlah tersebut setara dengan hampir 70 persen dari total kendaraan yang ditarik dalam aksi kali ini.
Di bawah Tesla, Xiaomi menarik sekitar 390 ribu unit dan Leapmotor 371 ribu unit. Xpeng menyusul dengan 264 ribu unit. Empat merek tersebut totalnya mencapai 4,005 juta unit, sementara sisanya sekitar 295 ribu unit tersebar di Geely Holding dan empat pabrikan lain yang tidak disebutkan namanya dalam laporan Reuters.
Akar permasalahan ada pada gagang pelepas pintu darurat mekanis di dalam kabin. Regulator menilai perangkat ini berpotensi sulit ditemukan atau dioperasikan dalam situasi darurat, misalnya setelah tabrakan keras yang disertai kegagalan sistem kelistrikan.
Tesla menyampaikan kepada SAMR bahwa gagang tersebut bisa sulit diidentifikasi usai benturan keras. Kondisi ini berpotensi menghambat penumpang keluar dari kendaraan dan menyulitkan akses tim penyelamat dari luar.
Seluruh pabrikan yang terlibat memasang label peringatan untuk menandai posisi gagang pelepas pintu darurat mekanis. Sebagian besar juga melakukan pembaruan perangkat lunak jarak jauh alias over-the-air.
Solusi Tesla mencakup label peringatan plus pembaruan yang otomatis menurunkan kaca jendela setelah tabrakan. Sementara Leapmotor menyatakan lingkup penanganannya lebih terbatas, yakni label peringatan dan peningkatan perangkat lunak kontrol power window.
"Meski begitu perusahaan tetap mengelola dan mendaftarkannya sesuai proses recall atas dasar rasa tanggung jawab kepada pengguna kami," kata Leapmotor, dikutip Reuters, Jumat (21/8).
Cacat ini menjadi sorotan setelah sejumlah kasus penumpang terjebak di dalam kendaraan yang terbakar. Media pemerintah China melaporkan pada Oktober ada pengemudi sedan Xiaomi SU7 tewas usai tabrakan dan kebakaran lantaran orang di sekitar lokasi tidak bisa membuka pintu untuk menariknya keluar.
Kasus tersebut mempercepat keputusan regulator untuk menindak tegas desain gagang pintu tersembunyi yang sempat populer. China menyatakan bakal melarang desain gagang pintu tersembunyi mulai 2027—langkah pertama di dunia yang menghapus gaya desain yang diadopsi luas oleh produsen mobil listrik lokal setelah dipopulerkan Tesla.
Gagang pintu yang dibuka lewat key fob, ponsel, atau panel sentuh turut disorot regulator Amerika Serikat. Bulan lalu, National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) menyatakan bakal mempertimbangkan standar keselamatan baru terkait risiko penumpang terperangkap ketika daya listrik mati.
Hingga Jumat malam, NHTSA menyebut belum ada pabrikan yang memberi tahu rencana recall serupa untuk pasar Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan potensi perbedaan standar keselamatan antara pasar China dan AS.
Wakil Presiden firma riset AutoForecast Solutions Sam Fiorani menilai ongkos penanganan kali ini kemungkinan terbatas. "Pembaruan over-the-air modern memangkas biaya dan waktu henti yang menyertai recall besar, dan bahkan pekerjaan fisik yang perlu dilakukan tidak akan terlalu mahal dibandingkan recall besar di masa lalu," ucapnya.