MALUKU — Aliansi Mahasiswa Kota Tangerang memutuskan untuk menyampaikan langsung aspirasinya ke lembaga legislatif. Presiden Mahasiswa UMT, Fajar Anugrah Aberdien, menyebut aksi ini melibatkan 50 hingga 100 orang dari Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS), Global Institute, STIE Suprahmaniyah, dan sejumlah kampus lainnya.
Dalam orasinya, mahasiswa menyoroti tiga kebijakan yang dinilai belum berpihak pada rakyat. Pertama, kenaikan harga BBM yang membebani daya beli masyarakat. Kedua, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurut mereka perlu dievaluasi efektivitas dan sasarannya. Ketiga, persoalan kewarganegaraan yang belakangan memicu perdebatan publik.
“Hari ini kita akan ke DPR RI. Isu yang kami bawa tentang MBG, naiknya harga BBM, dan persoalan kewarganegaraan yang menurut kami perlu dievaluasi,” ujar Fajar saat dikonfirmasi sebelum keberangkatan.
Aliansi tidak hanya datang dengan spanduk dan poster. Mereka juga membawa dokumen pendukung berupa naskah akademik yang akan diserahkan langsung kepada anggota dewan. Fajar berharap dokumen itu bisa menjadi bahan pertimbangan serius bagi DPR dalam menjalankan fungsi legislasi dan pengawasan.
“Kami sudah membuat naskah akademik yang nanti akan diberikan kepada DPR RI. Semoga bisa diterima, didengar dan dikawal sampai selesai,” tegasnya.
Berbeda dengan aksi mahasiswa pada umumnya yang kerap memusatkan massa di Bundaran HI, aliansi ini memilih langsung menuju gedung parlemen. Fajar menjelaskan, keputusan itu diambil secara rasional karena tuntutan mereka berkaitan dengan fungsi legislatif.
“Kami berpikir secara rasional untuk berangkat ke DPR RI karena tuntutan kami berkaitan dengan legislatif. Jadi memang tempat yang kami tuju adalah DPR RI,” katanya.
Untuk mobilisasi, massa menggunakan dua unit angkutan kota dan puluhan kendaraan roda dua. Iring-iringan tersebut berangkat dari titik kumpul di kampus UMT, Kota Tangerang.
Fajar menegaskan bahwa gerakan ini tidak akan berhenti dalam satu hari. Jika tuntutan yang disampaikan tidak mendapat tanggapan dari pemerintah dan DPR, mereka siap menggelar aksi susulan dengan jumlah massa yang lebih besar.
“Kami akan kembali lagi dengan gelombang yang lebih banyak jika tuntutan kami tidak didengar pemerintah,” ancamnya.
Ia menambahkan, solidaritas menjadi senjata utama mahasiswa dalam menyuarakan kepentingan masyarakat. “Kalau kami berangkat bersama, maka kami juga ingin masuk bersama. Karena jika solidaritas adalah senjata, maka mari kita lakukan bersama,” pungkas Fajar.