Pencarian

SPUR Tambah 40 Anggota Baru, New York Times hingga AFP Gabung

Kamis, 15 Oktober 2026 • 11:51:32 WIB
SPUR Tambah 40 Anggota Baru, New York Times hingga AFP Gabung
SPUR menerima 40 anggota baru, termasuk The New York Times dan AFP, pada Selasa (13/10).

MALUKU — Standards for Publisher Usage Rights (SPUR) menerima 40 anggota baru pada Selasa (13/10), termasuk The New York Times, Agence France Presse (AFP), The Economist, dan The Atlantic. Koalisi penerbit global ini kini menaungi lebih dari 80 anggota dari lebih 20 negara, dengan fokus mengembangkan standar teknis agar perusahaan AI tidak memakai konten media tanpa izin.

Sejumlah organisasi media dari Amerika Latin juga masuk dalam gelombang keanggotaan terbaru. Associação Nacional de Jornais (ANJ) dari Brazil, Alianza de Medios dari Meksiko, dan Asociación de Entidades Periodísticas Argentinas (ADEPA) dari Argentina resmi bergabung. Langkah mereka menandai perluasan koalisi ke wilayah yang selama ini jarang terwakili dalam perdebatan hak cipta konten dan kecerdasan artifisial.

Siapa Saja Pendiri dan Anggota Awal SPUR

SPUR pertama kali diluncurkan pada Februari oleh sejumlah media besar, termasuk BBC, Financial Times, Guardian Media Group, Mediahuis, Sky News, Telegraph Media Group, Associated Press, dan CMA Media. Kedelapan nama itu menjadi fondasi koalisi yang kini berkembang lintas benua.

Penerbit yang bergabung menyatakan langkah ini sebagai respons atas praktik perusahaan AI yang mengambil keuntungan dari karya jurnalistik tanpa kompensasi. Hingga kini, belum ada mekanisme baku yang memastikan penerbit mendapat pembayaran layak ketika konten mereka dipakai untuk melatih model bahasa besar.

Peran David Buttle dan Posisi SPUR terhadap Perusahaan AI

Salah satu pendiri sekaligus juru bicara SPUR, David Buttle, menegaskan pentingnya solidaritas antarorganisasi media. Menurut dia, penerbit selama ini berada dalam posisi lemah karena tidak punya alat untuk menegosiasikan penggunaan karya mereka.

"Organisasi media di seluruh dunia harus bersatu untuk melindungi diri mereka sendiri, satu sama lain, dan masa depan jurnalisme," kata Buttle, dikutip dari situs resmi SPUR.

"Kita tahu bahwa jurnalisme berkualitas tinggi membentuk fondasi model AI. Namun, saat ini penerbit tidak memiliki mekanisme untuk memastikan mereka mendapatkan kompensasi yang adil atas pekerjaan mereka. Dalam banyak kasus, hasil karya mereka benar-benar dicuri," tambahnya.

SPUR menyatakan komitmennya menyatukan penerbit untuk menciptakan pasar yang adil dalam penggunaan konten di sistem AI. Tujuannya agar pemilik konten dan pengembang teknologi dapat menjalankan bisnis secara transparan dan berkelanjutan.

Standar Teknis dan Content Telemetry Standard

Fokus utama SPUR saat ini adalah pengembangan standar dan sistem teknis lintas industri. Sistem tersebut dirancang membantu penerbit melacak serta mengontrol bagaimana perusahaan AI memakai konten mereka, sekaligus memfasilitasi perjanjian lisensi.

SPUR belum lama ini mengembangkan Content Telemetry Standard, sebuah standar yang mengatur cara agen AI merekam dan melaporkan penggunaan konten media. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memastikan kreator menerima kompensasi atas karya mereka.

Gugatan Hukum terhadap OpenAI dan Microsoft

Reuters melaporkan bahwa penerbit dan media telah menempuh jalur hukum untuk mencegah perusahaan AI memakai konten mereka tanpa izin dalam pelatihan model bahasa besar (LLM). Pada awal bulan ini, USA Today dan sejumlah surat kabar menggugat OpenAI atas tuduhan pelanggaran hak cipta.

OpenAI dan Microsoft yang mendukungnya juga menghadapi klaim serupa dari penulis dan organisasi berita terkemuka, termasuk New York Times. Kepala kemitraan strategis sekaligus kepala staf New York Times, Rebecca Grossman-Cohen, menilai perlindungan kekayaan intelektual tidak harus bertentangan dengan kemajuan teknologi.

"Perlindungan kekayaan intelektual dan kemajuan teknologi dapat dan harus berjalan beriringan," kata Grossman-Cohen.

Penurunan Trafik Media Akibat Jawaban AI di Browser

Selain sengketa hak cipta, media daring menghadapi tantangan lain berupa penurunan trafik. Browser masa kini dirancang menampilkan jawaban hasil AI secara otomatis, sehingga pengguna bisa mengonsumsi informasi tanpa mengeklik tautan ke situs penerbit.

Data Chartbeat yang dikutip dalam laporan Reuters Institute menunjukkan penurunan pencarian organik Google sebesar 33 persen secara global antara November 2024 hingga November 2025. Angka itu mencakup lebih dari 2.500 situs web yang dipantau.

Bagi ekosistem media Indonesia, persoalan serupa berpotensi muncul seiring makin banyaknya pengguna yang mengakses berita lewat agregator dan jawaban AI. Keikutsertaan penerbit dalam standar seperti SPUR menjadi salah satu cara menekan risiko kehilangan trafik sekaligus pendapatan iklan.

Follow kabartual.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks
Google NotebookLM Bisa Ubah
Rekomendasi untuk Anda Google NotebookLM Bisa Ubah