MALUKU — Lonjakan biaya pinjaman jangka panjang di Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman menjadi tekanan utama bagi logam mulia. Kondisi ini secara langsung memperbesar opportunity cost memegang emas dibandingkan instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi pemerintah.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia justru bertahan di zona positif untuk sesi ketiga beruntun. Kenaikan harga energi ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, yang pada gilirannya memperkuat kekhawatiran inflasi global.
Kurva Imbal Hasil yang Semakin Curam Jadi Hambatan Utama
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, Peter Grant, menilai kombinasi faktor makro tersebut menjadi biang kerok pelemahan hari ini. Menurutnya, kurva imbal hasil yang semakin curam menjadi hambatan bagi emas, sementara harga minyak yang menguat juga menjadi faktor di balik koreksi harga logam mulia.
"Kurva imbal hasil yang semakin curam menjadi hambatan bagi emas, sementara harga minyak yang menguat juga menjadi faktor di balik pelemahan hari ini," kata Grant kepada Reuters.
Konsolidasi Diprediksi Sebelum Harga Emas Kembali Menguat
Kendati tengah mengalami koreksi, Grant tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka menengah. Ia menilai harga emas masih memiliki ruang untuk kembali menguat, meski pasar kemungkinan perlu melewati periode konsolidasi terlebih dahulu sebelum minat beli kembali meningkat.
Koreksi ini terjadi setelah emas mencatatkan reli signifikan sepanjang tahun berjalan, didorong aksi pembelian bank sentral global dan ketidakpastian ekonomi makro. Namun, dengan imbal hasil obligasi yang terus merangkak naik, arus dana investor mulai bergeser ke instrumen utang yang menawarkan yield lebih kompetitif.
Bagi investor yang memegang posisi emas, periode volatilitas ini menuntut kehati-hatian ekstra. Pergerakan Treasury yield dan harga minyak dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi penentu arah pergerakan emas selanjutnya.
Investasi mengandung risiko.