AMBON — Temuan ini berpotensi menekan biaya operasional petani secara signifikan karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya bahan bakar minyak (BBM) untuk mengoperasikan pompa. Progres pembangunan di lokasi tersebut telah mencapai sekitar 50 persen sejak dimulai pada 27 Juni 2026.
Dua Titik Pembangunan dengan Capaian Berbeda
Tim BBRMP Maluku yang terdiri dari Basaria Imelda Situmorang dan Mulyadi baru-baru ini meninjau langsung dua titik pembangunan Irpom di desa tersebut. Mereka didampingi Koordinator Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Savana Jaya, Suhuri Buton, bersama penyuluh pertanian lapangan Rosita.
Gunawan menambahkan, meskipun kedalaman pengeboran di lokasi pertama melebihi standar operasional pembangunan Irpom, hasilnya justru menguntungkan petani. "Air dapat mengalir secara alami tanpa menggunakan mesin pompa," katanya di Ambon, Sabtu.
Saluran Tersier 250 Meter untuk Kelompok Tani Ragil Jaya
Sementara itu, di lokasi Kelompok Tani Ragil Jaya, progres pembangunan Irpom telah mencapai 70 persen. Pekerjaan yang masih berlangsung saat ini adalah pembangunan saluran tersier sepanjang 250 meter yang berfungsi mendistribusikan air ke lahan pertanian.
BBRMP Maluku meyakini keberadaan saluran ini akan menjamin ketersediaan air secara lebih merata. Dampak langsungnya adalah peningkatan intensitas tanam dan hasil produksi petani di wilayah setempat.
Target: Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Kabupaten Buru
BBRMP Maluku menargetkan seluruh pembangunan Irpom dapat segera rampung agar manfaatnya bisa dirasakan petani. Infrastruktur irigasi yang efektif ini diharapkan menjadi fondasi penguatan ketahanan pangan di Kabupaten Buru.
Ke depan, BBRMP Maluku akan terus melakukan pendampingan bersama penyuluh pertanian. Tujuannya memastikan sarana irigasi yang telah dibangun dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok tani, sehingga mampu meningkatkan produktivitas lahan, efisiensi usaha tani, dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.