Dari mancanegara, premi risiko geopolitik menjadi fokus utama investor setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan melancarkan serangan. Trump mengancam akan melakukan pengeboman pada hari kedua dan memberlakukan kembali blokade angkatan laut AS sebagai balasan atas serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
“IHSG diperkirakan masih berpotensi melanjutkan koreksi untuk menguji area support di kisaran 5.800-5.745 pada perdagangan Kamis,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Kenaikan harga minyak mentah global akibat ketegangan di Timur Tengah semakin memperberat sentimen pasar, mengingat Indonesia merupakan negara importir energi.
Risalah The Fed: Perpecahan Soal Suku Bunga
Risalah rapat The Fed yang dirilis baru-baru ini menunjukkan perdebatan terbagi rata di antara para anggota. Sebagian peserta meyakini inflasi akan kembali mendekati target 2 persen secara alami, sementara sebagian lainnya melihat inflasi tetap tinggi karena permintaan kuat di sektor kecerdasan buatan (AI), konflik Timur Tengah, atau dampak tarif.
Kondisi ini membuat harga emas spot ikut melemah, seiring kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi yang masih belum mereda.
Ancaman Downgrade S&P dan Capital Outflow
Dari dalam negeri, S&P Dow Jones Indices mengumumkan hasil evaluasi yang menempatkan Indonesia dalam status pemantauan, berpotensi diturunkan dari kelompok emerging market menjadi frontier market. Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana menggelar pertemuan dengan penyedia indeks global tersebut untuk menindaklanjuti keputusan itu.
Peringatan dari lembaga internasional ini telah memicu capital outflow karena berkurangnya kepercayaan investor asing. Di sisi lain, Kementerian Keuangan menargetkan dana investor asing yang masuk ke Pusat Financial Internasional Indonesia (PFII) sekitar Rp300 triliun hingga Rp500 triliun.
Keyakinan Konsumen Turun ke Level Terendah Sejak September 2025
Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun ke level 117,8 pada Juni 2026, dari level 120,9 pada Mei 2026. Angka ini merupakan level terendah sejak September 2025.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) masing-masing berada pada level 109,2 dan 126,4 di Juni 2026, turun dari level 112,2 dan 129,7 di bulan sebelumnya. Meskipun masih berada di zona optimis (di atas 100), penurunan ini mencerminkan tekanan daya beli masyarakat.
Bursa Global Kompak Melemah
Pada perdagangan Rabu (8/7), bursa Eropa melemah signifikan: Euro Stoxx 50 turun 1,79 persen, FTSE 100 Inggris melemah 1,66 persen, DAX Jerman turun 2,23 persen, dan CAC 40 Prancis melemah 2,18 persen. Bursa AS Wall Street juga tertekan, dengan Dow Jones Industrial Average melemah 1,09 persen dan S&P 500 turun 0,28 persen, meskipun Nasdaq Composite masih mampu menguat tipis 0,27 persen.
Di Asia pagi ini, pergerakan bervariasi: indeks Nikkei menguat 1,94 persen ke 68.115,00, Shanghai melemah 0,36 persen ke 3.955,00, Kospi menguat 0,25 persen ke 7.264,76, sementara Strait Times naik 0,78 persen ke 5.410,90.
Selanjutnya investor akan menantikan data penjualan ritel dan penjualan sepeda motor sebagai indikator konsumsi domestik.