Pencarian

Rupiah Tembus Rp18.066 per Dolar AS, Ekonom Sebut Ketegangan AS-Iran di Timur Tengah Jadi Pemicu

Kamis, 09 Juli 2026 • 13:37:31 WIB
Rupiah Tembus Rp18.066 per Dolar AS, Ekonom Sebut Ketegangan AS-Iran di Timur Tengah Jadi Pemicu
Rupiah melemah ke posisi Rp18.066 per dolar AS pada Kamis pagi seiring ketegangan geopolitik Timur Tengah.

JAKARTA — Tekanan terhadap rupiah kembali terasa di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Berdasarkan data pasar, kurs rupiah pada Kamis pagi dibuka di posisi Rp18.066 per dolar AS, turun signifikan dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp18.014 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pelemahan ini tidak hanya dialami oleh rupiah, melainkan juga mata uang utama Asia lainnya. Sentimen risiko global menjadi faktor dominan yang menekan pasar keuangan negara berkembang.

Serangan Militer AS ke Iran Meredupkan Harapan Damai

Menurut Josua, eskalasi yang dimaksud adalah serangan militer AS terhadap Iran. Aksi ini secara langsung meredupkan harapan akan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat di kawasan tersebut. “Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan sentimen risiko di kawasan,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Selat Hormuz dan Kekhawatiran Gangguan Pasokan Minyak

Konflik yang terus berlanjut memunculkan masalah baru di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Gangguan di jalur tersebut memicu kekhawatiran serius tentang pasokan minyak global. Situasi ini diperparah setelah AS menarik konsesi penting yang memungkinkan Iran menjual minyak secara internasional, sebuah langkah yang diprediksi akan membuat pasar minyak semakin ketat dalam beberapa pekan ke depan.

Dampaknya langsung terasa pada harga minyak mentah yang naik hingga melampaui 75 dolar AS per barel. Kenaikan harga komoditas energi ini menjadi beban tambahan bagi mata uang negara berkembang yang rentan terhadap fluktuasi eksternal.

Sentimen Domestik: Risalah FOMC Tegaskan Kekhawatiran Inflasi

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juni 2026 yang baru dirilis kembali menegaskan kekhawatiran para pembuat kebijakan AS terhadap tekanan inflasi yang masih persisten. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga acuan AS akan tetap tinggi lebih lama, yang berpotensi mengalihkan aliran modal dari negara berkembang.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, para analis memperkirakan pergerakan rupiah dalam jangka pendek akan berada dalam kisaran Rp17.975 hingga Rp18.125 per dolar AS. Pasar masih akan mencermati perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah sebagai katalis utama pergerakan nilai tukar.

Follow kabartual.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ambon.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks