ROTTERDAM — Permintaan maaf resmi yang disampaikan Perdana Menteri Belanda, Rob Jetten, kepada mantan tentara KNIL asal Maluku pada Juni 2026 menjadi penutup dari penantian panjang yang telah berlangsung selama 75 tahun. Namun di balik permintaan maaf tersebut, tersimpan kisah tentang ribuan orang Maluku yang pernah menjadi tulang punggung militer kolonial Belanda, tetapi kemudian menjalani hidup dalam pengasingan di negeri yang mereka anggap hanya tempat persinggahan.
Mengapa Ribuan Pemuda Maluku Direkrut Belanda?
KNIL atau Koninklijk Nederlands-Indisch Leger dibentuk Belanda pada abad ke-19 sebagai pasukan kolonial di Hindia Belanda. Sejak akhir 1800-an, pemerintah kolonial merekrut banyak pemuda dari Ambon, Seram, dan berbagai wilayah di Maluku untuk menjadi tentara profesional.
Dalam berbagai arsip kolonial, orang-orang Maluku dikenal memiliki disiplin tinggi, loyal terhadap tugas, serta memiliki tradisi kemiliteran yang kuat. Faktor lain yang turut memengaruhi kebijakan tersebut adalah banyaknya masyarakat Maluku yang telah memeluk agama Kristen Protestan sejak masa Vereenigde Oostindische Compagnie, sehingga dianggap memiliki kedekatan budaya dengan pemerintah kolonial.
Apa yang Terjadi Setelah Indonesia Merdeka?
Perjalanan mereka bukan sekadar bagian dari sejarah kolonial, melainkan juga potret rumit tentang kesetiaan, pergolakan politik, dan identitas yang terombang-ambing di tengah perubahan besar setelah Indonesia merdeka. Ribuan serdadu KNIL asal Maluku dan keluarga mereka kemudian dibawa ke Belanda, bukan sebagai imigran yang direncanakan, melainkan sebagai konsekuensi dari kekalahan kolonial.
Di Belanda, mereka tinggal di kamp-kamp pengasingan, hidup dalam ketidakpastian, dan menunggu pengakuan atas jasa serta pengabdian mereka. Permintaan maaf Jetten pada Juni 2026 menjadi pengakuan simbolis yang telah dinanti selama puluhan tahun.
75 Tahun Penantian: Dari Kesetiaan ke Pengasingan
Permintaan maaf PM Belanda Rob Jetten kepada mantan tentara KNIL asal Maluku di Rotterdam menjadi penutup dari penantian panjang yang telah berlangsung selama 75 tahun. Pengakuan ini tidak hanya menutup luka sejarah, tetapi juga membuka babak baru dalam hubungan antara Belanda dan diaspora Maluku.
Bagi ribuan mantan serdadu dan keturunan mereka yang kini tersebar di berbagai kota di Belanda, pengakuan ini adalah bentuk penghormatan atas pengabdian yang selama ini terabaikan. Namun, pengasingan puluhan tahun telah membentuk identitas baru yang tak lagi sepenuhnya Maluku, juga tak sepenuhnya Belanda.