AMBON — PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) tidak sekadar memberikan pelatihan satu arah. Program TJSL PLN Peduli di Hative Besar ini dirancang untuk membangun kemandirian warga dalam mengelola sampah organik rumah tangga, sekaligus menekan volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Dua Hari Pelatihan: Dari Konsep hingga Praktik Produk Turunan
Pada hari pertama, peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga, kader PKK, staf pemerintah negeri, dan perwakilan guru SD mendapatkan pemahaman dasar mengenai konsep dan manfaat eco enzyme dalam pengelolaan limbah organik. Hari kedua difokuskan pada praktik langsung pembuatan enzyme buah serta pengolahan produk turunan seperti sabun cair dan sabun batang berbasis eco enzyme.
Narasumber I Wayan Yuli Ekayani, seorang penggiat eco enzyme, memandu peserta dari pengenalan hingga praktik pembuatan produk bernilai guna. Peserta tidak hanya mendengar teori, tetapi juga terlibat langsung dalam proses produksi.
Motor Penggerak dari Dapur: Ibu Rumah Tangga Jadi Target Utama
PLN sengaja menempatkan ibu rumah tangga sebagai sasaran utama pelatihan. Alasannya, perubahan perilaku pengelolaan sampah paling efektif dimulai dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Dengan keterampilan mengolah sampah organik menjadi eco enzyme, para ibu diharapkan mampu memproduksi sendiri kebutuhan rumah tangga sekaligus mengurangi ketergantungan pada TPA.
General Manager PLN UIW MMU, Noer Soeratmoko, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk dampak jangka panjang.
“PLN terus mendorong inisiatif yang tidak hanya memberikan manfaat sesaat, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat dalam jangka panjang. Pengelolaan sampah organik melalui eco enzyme merupakan contoh sederhana yang dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan, kesehatan, dan potensi ekonomi rumah tangga,” ujar Noer, Senin (29/6/2026).
RT 003/RW 002 Jadi Percontohan, Lengkap dengan Tong Komposter
Sebagai lokasi percontohan binaan, RT 003/RW 002 Hative Besar telah mendapatkan fasilitas penunjang. PLN menyalurkan tiga unit tempat sampah ukuran 240 liter dan enam tong komposter. Pendampingan juga dilakukan terhadap 41 kepala keluarga sejak awal Juni 2026.
Di lingkungan tersebut, sudah terbentuk kelompok pemberdayaan ibu-ibu dan pemuda yang aktif mengelola sampah organik dan anorganik. Hasil pengolahan sampah dari kelompok ini rencananya akan ditampilkan dalam pameran pada Juli 2026 sebagai bentuk edukasi dan apresiasi atas partisipasi masyarakat.
Target: Mengubah Sampah Organik dari Beban Jadi Bernilai Ekonomi
Melalui praktik eco enzyme, warga didorong untuk tidak lagi memandang sampah organik sebagai beban. Limbah dapur seperti sisa buah dan sayuran bisa diolah menjadi cairan serbaguna yang bermanfaat untuk pembersih rumah, pupuk tanaman, hingga bahan baku sabun. Dengan nilai guna yang beragam, eco enzyme membuka peluang ekonomi sederhana di tingkat komunitas.
PLN berharap kegiatan ini tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi menjadi pemicu perubahan perilaku berkelanjutan. Program ini menjadi bukti bahwa pengelolaan lingkungan berbasis komunitas bisa menjadi kunci menciptakan perubahan nyata dari tingkat rumah tangga. ***