Hyundai Nexo Gen 2 Tetap Hidup, tapi Cari Pembeli Hydrogen Jadi Tantangan

Penulis: Ragil  •  Senin, 02 November 2026 | 19:31:01 WIB
Hyundai memastikan pengembangan mobil hidrogen Nexo generasi kedua tetap berlanjut meski penjualannya minim.

MALUKU — Hyundai memastikan mobil hidrogen belum mati meski penjualannya nyaris tak bergerak. Scott Nargar, Senior Manager Future Mobility & Government Relations Hyundai Australia, mengakui tantangan terbesar bukan teknologi, melainkan mencari konsumen yang mau membeli. Nexo generasi kedua yang meluncur 2025 disebut sebagai model global, tapi infrastruktur pengisian hidrogen masih jadi penghalang utama.

Teknologi fuel cell memang menawarkan janji besar: pengisian cepat seperti mobil bensin, jarak tempuh ratusan kilometer, dan emisi nol. Namun janji itu belum berhasil diterjemahkan menjadi angka penjualan yang berarti. Hyundai lewat Nexo generasi kedua tetap bertahan di jalur ini, sementara Toyota sudah lebih dulu bermain dengan Mirai.

Pernyataan Nargar kepada CarExpert menjadi cermin realistis industri ini. Ia tidak menyebut hidrogen sebagai masa depan yang pasti, tapi juga menolak menyebutnya mati.

Nexo Generasi Kedua dan Klaim Jarak Tempuh 435 Mil

Nexo FCEV generasi kedua diperkenalkan pada 2025 dan diposisikan sebagai model global. Mobil ini diklaim mampu menempuh sekitar 435 mil atau sekitar 700 kilometer dengan tangki hidrogen penuh. Penggeraknya motor listrik 110 kilowatt, disokong baterai tegangan tinggi 2,64 kilowatt-jam yang berfungsi sebagai buffer antara motor dan fuel stack.

Angka tersebut secara teknis kompetitif. Masalahnya, performa di atas kertas tidak serta-merta mendorong konsumen datang ke dealer.

Infrastruktur Pengisian Jadi Penghalang Pertama

Stasiun pengisian hidrogen sangat sedikit jumlahnya, bahkan di pasar maju seperti Australia dan Amerika Serikat. Tanpa jaringan yang layak, konsumen rasional akan berpikir dua kali sebelum membeli kendaraan yang bergantung pada satu titik pengisian langka.

Kondisi ini berbeda jauh dengan kendaraan listrik berbasis baterai. Jaringan charger EV tumbuh agresif dalam beberapa tahun terakhir, dan kekhawatiran soal kehabisan daya perlahan mereda. Harga mobil listrik baru juga terus turun, membuat transisi ke EV makin masuk akal secara finansial.

Harga Nexo Lebih Mahal dari EV Sebanding

Faktor kedua adalah biaya. Mobil hidrogen dijual lebih mahal dibanding kendaraan bensin maupun listrik di kelas yang sama. Selisih harga ini sulit dibenarkan ketika infrastruktur pendukungnya masih minim.

Biaya pengembangan fuel stack baru dan pembangunan stasiun pengisian juga tidak murah. Beban investasi besar itu membuat pabrikan harus berpikir panjang sebelum memperluas lini kendaraan hidrogen.

Alasan Pabrikan Tetap Bertahan di Jalur Hidrogen

Meski tantangannya berat, Hyundai dan sejumlah pabrikan lain seperti BMW, General Motors, dan Honda masih menaruh taruhan. Logikanya soal diversifikasi: suatu saat bensin dan diesel mungkin tidak lagi semudah sekarang didapat, dan hidrogen dianggap perlu punya tempat di lini masa depan.

Pendekatan Hyundai sendiri terbilang hati-hati. Berbeda dengan Toyota yang membuka penjualan Mirai secara bebas di California, Hyundai lebih banyak menjalankan uji coba terbatas untuk kendaraan penumpang berbasis hidrogen.

Pernyataan Nargar menegaskan posisi itu. "The biggest thing is you've got to find customers," ujarnya, seraya menegaskan hidrogen belum mati untuk kendaraan penumpang. Bagi konsumen Indonesia, teknologi ini masih jauh dari jangkauan praktis karena belum ada infrastruktur hidrogen komersial. Pantauan ke depan ada pada apakah pabrikan mampu menekan biaya fuel cell dan membangun jaringan pengisian sebelum kesabaran pasar habis.

Reporter: Ragil
Sumber: insideevs.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top