JAILOLO — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jailolo menegaskan komitmennya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya dalam memastikan kebutuhan obat pasien selama menjalani perawatan ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku. Penegasan itu disampaikan menyusul pemberitaan mengenai pengalaman Afrida yang mempertanyakan pelayanan obat di rumah sakit tersebut.
Pihak rumah sakit menjelaskan, persoalan yang diangkat Afrida berkaitan dengan miskomunikasi dalam penyampaian informasi kepada pasien. Menurut salah satu petugas RSUD Jailolo, kejadian itu menjadi pengingat pentingnya komunikasi yang jelas antara petugas pelayanan dan pasien agar kesalahpahaman dalam proses pelayanan kesehatan tidak terulang.
RSUD Jailolo menyatakan telah menerapkan mekanisme penanganan apabila obat yang diresepkan dokter tidak tersedia di instalasi farmasi. Pasien yang mendapati obat resepnya kosong dapat melaporkan kondisi tersebut kepada petugas rumah sakit untuk ditindaklanjuti.
Jika diperlukan, pemenuhan obat dapat dilakukan melalui pengadaan dari apotek di luar rumah sakit. Langkah itu diambil agar pasien tetap memperoleh obat sesuai resep dokter.
Ketersediaan obat disebut sebagai salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan. Karena itu, mekanisme pelaporan dan tindak lanjut diharapkan membantu mengatasi kendala ketersediaan obat secara cepat dan tepat.
Seluruh proses tetap mengacu pada resep dokter serta ketentuan pelayanan yang berlaku. Pihak rumah sakit belum merinci jumlah jenis obat yang kosong maupun rentang waktu penanganan yang dibutuhkan.
Pasien RSUD Jailolo yang menghadapi kondisi serupa diminta tidak menunda pelaporan. Sampaikan langsung ke petugas pelayanan atau instalasi farmasi agar kebutuhan obat bisa segera diproses sesuai prosedur.
Rumah sakit menekankan bahwa jalur komunikasi yang terbuka menjadi kunci mencegah kesalahpahaman. Penanganan keluhan obat bergantung pada kecepatan pasien melapor dan kesiapan petugas menindaklanjuti laporan tersebut.